Monday, July 20, 2026
home_banner_first
MEDAN

Gusmiyadi Soroti Harga, Hilirisasi hingga Peran Koperasi Bagi Petani Sumut

Mistar.idRabu, 6 Mei 2026 pukul 14.10 WIB
gusmiyadi_soroti_harga_hilirisasi_hingga_peran_koperasi_bagi_petani_sumut

Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Sumut, Gusmiyadi saat podcast di Mistar TV. (Foto: Ari/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Sekretaris Fraksi Partai Gerindra DPRD Sumatera Utara (Sumut), Gusmiyadi, menyebut sektor pertanian di Sumut menunjukkan tren positif seiring kebijakan pemerintah yang dinilai memberi kepastian harga bagi petani.

Politisi Gerindra itu menyampaikan, pemerintah telah menetapkan harga gabah sebesar Rp6.500 per kilogram, sementara harga gabah jagung berada di angka Rp5.500 per kilogram. Kepastian harga tersebut, menurutnya berdampak langsung pada meningkatnya semangat petani, khususnya petani padi.

“Pertanian berbasis sawah saat ini sudah memiliki kepastian harga. Ini membuat semangat petani semakin tinggi dan turut mendorong nilai tukar petani,” ujarnya saat Podcast Mo Tau Aja Tugas Parlemen bersama Mistar TV, Rabu (6/5/2026).

Gusmiyadi yang juga menjabat sebagai Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Sumatera Utara menilai, kondisi tersebut turut menciptakan rasa optimisme di kalangan petani. Ia melihat petani saat ini berada dalam situasi yang lebih baik dan bergembira dibanding sebelumnya.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memperkuat akses informasi, terutama bagi komunitas rentan di sektor pertanian. Ia mencontohkan kawasan Batubara yang memiliki lahan cabai hingga 800 hektare.

“Perlu ada orkestrasi yang baik dalam pengelolaan aktivitas pertanian, termasuk pengaturan ritme masa tanam dan panen. Kalau tidak diatur, produksi melimpah bisa berdampak pada anjloknya harga. Ini yang harus dikelola pemerintah,” katanya.

Gusmiyadi mendorong pemerintah untuk memperkuat hilirisasi produk pertanian. Ia berharap hasil panen yang melimpah tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah seperti bubuk cabai, saus, dan produk turunan lainnya.

“Hilirisasi penting agar hasil pertanian tidak mengalami nasib seperti komoditas lain yang harganya jatuh saat panen raya. Begitu juga pada sektor pertanian seperti coklat, kelapa, dan lainnya,” ujarnya.

Dalam menghadapi peran tengkulak, ia juga menyoroti pentingnya kehadiran Koperasi Merah Putih (KMP). Menurutnya, koperasi tersebut dapat menjadi solusi konkret dalam menjamin distribusi kebutuhan pokok petani seperti pupuk, gas, dan beras.

“KMP ini akan mengawal barang-barang yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Dengan begitu, ketergantungan terhadap tengkulak bisa ditekan,” katanya.

Terkait harga cabai yang kerap melonjak, Gusmiyadi menilai persoalan tersebut erat kaitannya dengan manajemen pertanian yang belum optimal. Ia mendorong pemerintah untuk membangun sistem yang mampu menjaga stabilitas harga melalui pengelolaan produksi yang lebih terencana.

Di sisi lain, ia juga menyinggung ketersediaan pupuk yang saat ini dinilai semakin membaik. Bahkan, untuk pupuk subsidi, menurutnya, distribusi sudah lebih aktif menjangkau petani, meski tetap memerlukan kelengkapan administrasi.

“Sekarang pertanian sudah berbasis digital, menggunakan drone dan teknologi lainnya. Banyak anak muda yang terlibat dan berkontribusi besar di Sumatera Utara,” tuturnya.

Ia menegaskan, pentingnya pemahaman masyarakat untuk mengubah perspektif terhadap profesi petani. Ia menegaskan bahwa saat ini banyak anak muda yang terjun ke sektor pertanian dengan pendekatan modern berbasis teknologi.

Ia menambahkan bahwa Industri hilirisasi yang ada di Sumut akan segera dilaksanakan melalui jutaan bibit pertanian kepada kelompok tani.

“Belasan juta bibit kopi yang akan dibagikan kepada kelompok tani, akan dibagikan juga bibit pokat, kelapa di wilayah-wilayah layak. Ini akan dibagikan untuk menghasilkan hasil pertanian yang sangat menjanjikan di Sumut,” ucapnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN