Wednesday, June 24, 2026
home_banner_first
MEDAN

Transformasi Digital Dorong Kesejahteraan Petani di Sumut

Mistar.idRabu, 6 Mei 2026 pukul 15.11 WIB
transformasi_digital_dorong_kesejahteraan_petani_di_sumut

Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Sumatera Utara, Gusmiyadi. (Foto: Ari/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Sumatera Utara, Gusmiyadi, menegaskan bahwa transformasi digital menjadi kunci penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani di Sumut. Pemanfaatan media sosial mampu membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus mendongkrak harga jual hasil pertanian.

Ia mencontohkan komoditas alpukat (pokat) yang banyak tumbuh di pekarangan rumah masyarakat. Jika sebelumnya petani menjual ke agen dengan harga sekitar Rp8.000 per kilogram, kini melalui media sosial produk yang sama bisa dijual langsung ke konsumen dengan harga mencapai Rp15.000 per kilogram.

“Cukup dengan posting sederhana di media sosial, misalnya ibu rumah tangga menulis, ‘Pokat saya panen, yang mau beli,’ harganya bisa lebih tinggi. Hasil pertanian kita bisa langsung terjual dengan harga yang lebih baik. Ini peluang besar yang harus dimanfaatkan petani,” ujarnya saat podcast di Mistar TV pada program Mo Tau Tugas Parlemen, Rabu (6/5/2026).

Hal serupa juga terjadi di sektor peternakan. Gusmiyadi, yang turut fokus pada bidang tersebut, menyebut kehadiran media sosial membuat peternak semakin memahami harga pasar yang ideal. Dampaknya, harga hewan kurban saat ini mengalami peningkatan yang signifikan.

Menurutnya, akses terhadap teknologi digital bukan hanya soal pemasaran, tetapi juga mendorong tumbuhnya jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) di kalangan petani.

Meski demikian, ia mengakui bahwa regenerasi petani muda masih dalam tahap awal, sementara sebagian petani senior dinilai belum sepenuhnya adaptif terhadap perkembangan teknologi.

“Keberanian untuk bertransformasi dan terus belajar menjadi kunci. Petani kita harus mulai terbuka terhadap inovasi,” kata Gusmiyadi, yang juga Sekretaris Fraksi DPRD Sumatera Utara.

Selain digitalisasi, ia juga menyoroti pentingnya hilirisasi produk pertanian. Ia menilai banyak komoditas yang selama ini dijual mentah, padahal bisa diolah untuk meningkatkan nilai tambah.

“Misalnya, singkong yang dapat diolah menjadi berbagai produk turunan, atau jagung yang dikeringkan untuk pakan ternak dengan harga jual lebih tinggi,” tuturnya.

Di sisi lain, ia menekankan peran penting penyuluh pertanian dari pemerintah. Menurutnya, penyuluh tidak hanya hadir untuk dokumentasi, tetapi harus aktif mendampingi petani di lapangan, mulai dari proses produksi hingga pemasaran.

“Rekrutmen dan peningkatan kompetensi penyuluh harus dilakukan secara optimal. Dengan pendampingan yang tepat, akan tercipta sinergi yang kuat antara petani dan pemerintah,” tuturnya.

Dengan pemanfaatan digital, peningkatan kapasitas petani, serta dukungan penyuluh yang profesional, Gusmiyadi optimistis sektor pertanian di Sumut dapat berkembang lebih maju dan memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN