Pakar Pers USU: Media Hadapi Tekanan Politik dan Kekuasaan

Prof Iskandar Zulkarnain (kemeja putih) saat memaparkan materi di diskusi publik Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026. (Foto: Deddy/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Pakar Pers asal Universitas Sumatera Utara (USU), Prof Iskandar Zulkarnain, menyebut pergerakan media saat ini tidak terlepas dari tekanan politik dan kekuasaan.
Hal ini diutarakan Kepala Program Studi S2 dan S3 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) USU itu ketika menjadi pemateri dalam kegiatan diskusi publik memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan.
"Tekanan terhadap kebebasan pers, selain tantangan teknologi, pers juga menghadapi tekanan politik dan kekuasaan. Di berbagai negara, termasuk negara demokrasi, jurnalis sering menghadapi intimidasi, kriminalisasi, bahkan kekerasan fisik," kata Iskandar di salah satu kafe di Kecamatan Medan Johor, Selasa (5/5/2026) sore.
Tekanan tersebut, dijelaskan Iskandar, dapat muncul dari aktor politik dalam kepentingan ekonomi maupun kelompok tertentu yang tidak ingin dikritik. Padahal, tanpa pers yang bebas, masyarakat akan kehilangan akses terhadap kebenaran.
"Sejak lama pers dikenal sebagai pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Pers memiliki tiga fungsi utama di antaranya menyampaikan informasi kepada publik, mengawasi kekuasaan, serta menjadi ruang diskusi publik," tuturnya.
Ia mengatakan, pers bukan sekadar industri media, tetapi juga institusi yang menjaga transparansi dan akuntabilitas kekuasaan. Namun, kekuatan pers kini dipertanyakan, apakah masih sama seperti sebelumnya atau justru melemah.
"Tantangan jurnalisme di era digital seperti saat ini menghadirkan dilema besar bagi jurnalisme. Media harus bersaing dalam kecepatan publikasi, tetapi di sisi lain tetap harus menjaga akurasi. Dilema besar bagi jurnalisme modern, saat sekarang ini ialah antara idealisme jurnalistik dan realitas bisnis media," ujar Iskandar.
Dalam momentum Hari Kebebasan Pers Sedunia yang diperingati setiap tanggal 3 Mei 2026, Iskandar mengajak seluruh insan pers untuk merefleksikan kondisi pers saat ini terkait apakah pers sudah benar-benar bebas atau belum.
"Beberapa pertanyaan penting yang perlu kita renungkan adalah apakah pers benar-benar bebas? Apakah media masih dipercaya publik? Sapa yang bertanggung jawab menjaga kebenaran di ruang publik? Jawabannya bukan hanya di jurnalis, tetapi juga pada masyarakat dan negara," ucapnya.
Di kegiatan diskusi publik yang mengusung tema "Jurnalisme dan Kebebasan Pers di Sumatera Utara" tak hanya menghadirkan Iskandar, tetapi Rika Suartiningsih selaku Pemimpin Redaksi Harian Mistar/mistar.id dan Jhonni Sitompul selaku Jurnalis Medan Bisnis juga hadir menjadi pemateri.




















