Tren Minum Gelatin Diklaim Bantu Turunkan Berat Badan, Simak Penjelasan Ahli

Gelatin. (Foto: Kompas.com)
Jakarta, MISTAR.ID - Belakangan, muncul tren baru yang ramai diperbincangkan di TikTok dan berbagai platform digital mengenai metode meminum campuran gelatin dan air hangat sebelum makan.
Banyak pengguna media sosial mengklaim cara ini mampu mengurangi nafsu makan sehingga membantu proses penurunan berat badan.
Bahkan, sebagian warganet menjulukinya sebagai "Ozempic alami" karena diyakini memberikan efek kenyang yang menyerupai obat penurun berat badan berbasis GLP-1.
Meski demikian, para pakar mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai klaim yang beredar tanpa dasar ilmiah yang kuat. Ahli gizi asal New Jersey, Erin Palinski-Wade, menjelaskan bahwa memang terdapat alasan ilmiah yang dapat membuat seseorang merasa lebih cepat kenyang setelah mengonsumsi gelatin.
Namun, hal itu tidak serta-merta membuktikan bahwa metode tersebut efektif sebagai solusi instan untuk menurunkan berat badan.
"Ketika gelatin masuk ke dalam lambung, lingkungan asam di dalam perut membantu membentuk campuran yang lebih kental dan menyerupai gel. Kondisi ini meningkatkan volume dan kepadatan isi lambung," ujarnya, seperti dikutip dari Wolipop, Jumat (26/6/2026).
Saat isi lambung bertambah banyak, dinding lambung akan meregang dan mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh mulai merasa kenyang. Selain itu, kandungan protein dalam gelatin juga dapat memicu pelepasan hormon di saluran pencernaan yang membantu memperlambat proses makan.
Hasilnya, rasa kenyang muncul lebih cepat sehingga sebagian orang mungkin mengonsumsi kalori lebih sedikit saat makan.
Benarkah Efek Minum Gelatin Sama Seperti Ozempic?
Meski banyak pengguna media sosial menyebutnya sebagai 'Ozempic alami', Erin menegaskan bahwa perbandingan tersebut berlebihan.
"Ibarat membandingkan selang taman dengan hidran pemadam kebakaran. Konsep dasarnya mungkin mirip, tetapi kekuatan dan dampaknya sangat berbeda," ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa gelatin memang dapat membantu memicu respons hormon yang berkaitan dengan rasa kenyang, tetapi efeknya jauh lebih ringan dibandingkan obat resep seperti semaglutide, bahan aktif yang digunakan dalam Ozempic.
"Gelatin tidak bekerja pada reseptor tubuh seperti obat-obatan tersebut, dan tidak memiliki kemampuan tersembunyi untuk membakar lemak," tuturnya.
Pada dasarnya, gelatin hanya membantu memenuhi lambung sehingga seseorang merasa kenyang lebih lama dan cenderung makan dalam porsi yang lebih sedikit.
Gelatin terbilang murah dan relatif aman, namun tidak ideal untuk dijadikan pengganti makan. Erin menjelaskan bahwa gelatin memang mengandung protein dalam jumlah cukup tinggi.
Namun protein tersebut bukan tergolong protein lengkap karena tidak mengandung asam amino esensial triptofan yang dibutuhkan tubuh.
Mengandalkan gelatin sebagai pengganti makanan utama berisiko menyebabkan kekurangan asam amino penting dan tidak mampu mendukung kesehatan maupun pemeliharaan massa otot secara optimal.
Oleh karena itu, gelatin sebaiknya hanya dikonsumsi untuk mengontrol nafsu makan sebelum makan, bukan solusi utama menurunkan berat badan.
Selain itu, ibu hamil, ibu menyusui, penderita penyakit ginjal, atau orang yang memiliki alergi terhadap produk hewani disarankan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mencoba metode ini.
Erin pun menekankan bahwa meskipun gelatin bisa membantu mengontrol porsi makan dengan biaya relatif murah, bahan ini bukanlah jalan pintas untuk menurunkan berat badan.
"Gelatin memang dapat menjadi kebiasaan sederhana yang membantu mengontrol porsi makan. Namun ini bukan solusi ajaib untuk menurunkan berat badan," tuturnya. (hm20)























