Feses Jadi Petunjuk Dini Kanker Pankreas, Penelitian Ungkap Peran Mikroba Usus

Ilustrasi pankreas. (Foto: Medica Store)
Jakarta, MISTAR.ID
Tanda awal kanker kerap tidak mudah dikenali karena sering menyerupai gangguan kesehatan ringan yang umum terjadi sehari-hari. Namun, riset terbaru menunjukkan adanya indikator biologis yang selama ini jarang diperhatikan, yaitu dari sampel tinja atau feses.
Temuan ini berasal dari studi kanker pankreas, salah satu jenis kanker yang dikenal sulit dideteksi sejak fase awal. Para peneliti menemukan bahwa perubahan komunitas bakteri di dalam usus berpotensi menjadi sinyal awal keberadaan kanker, bahkan sebelum gejala serius muncul.
Kanker pankreas dengan tipe pancreatic ductal adenocarcinoma (PDAC) merupakan bentuk yang paling sering ditemukan. Jenis ini berkembang di saluran pankreas yang terhubung dengan usus halus, sehingga perubahan pada organ tersebut dapat meninggalkan jejak biologis di sistem pencernaan dan terdeteksi melalui tinja.
Selama ini, penyakit ini umumnya baru terdiagnosis ketika pasien mengalami keluhan seperti kelelahan berkepanjangan, gangguan metabolisme, penurunan kondisi tubuh, atau nyeri tanpa penyebab jelas. Sayangnya, gejala tersebut kerap dianggap sepele sehingga banyak kasus baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut.
Baca Juga: Ini 5 Makanan Bisa Mencegah Kanker Pankreas
Jejak yang Tersembunyi di Mikroba Usus
Dalam penelitian tersebut, perhatian utama bukan pada tampilan fisik feses, melainkan pada komposisi mikroorganisme di dalamnya. Melalui teknologi 16S rRNA gene sequencing, ilmuwan dapat memetakan jenis serta jumlah bakteri yang hidup di saluran pencernaan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa penderita kanker pankreas memiliki pola mikrobioma yang berbeda dibandingkan individu sehat. Salah satu perbedaan yang paling menonjol adalah menurunnya keragaman bakteri usus pada pasien kanker.
Perubahan ini membentuk pola khas yang dapat diibaratkan sebagai “sidik jari biologis” untuk membedakan kondisi sehat dan penyakit.
Dalam studi internasional yang melibatkan peneliti dari Finlandia dan Iran pada 2025, data mikrobioma dari feses bahkan digunakan untuk melatih sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Hasilnya, AI tersebut mampu mengidentifikasi pasien kanker pankreas hanya dari profil bakteri usus yang dianalisis dari sampel tinja.
Temuan ini membuka peluang baru dalam pengembangan metode deteksi dini untuk kanker yang selama ini sulit dikenali pada tahap awal.
Arah Baru Penelitian Mikrobioma
Kajian tentang mikrobioma usus kini berkembang pesat dengan dukungan teknologi seperti shotgun metagenomic sequencing, yang memungkinkan pemetaan seluruh materi genetik mikroorganisme di usus secara lebih detail.
Perkembangan ini turut mengubah cara pandang dunia medis terhadap tubuh manusia. Jika sebelumnya tubuh dianggap sebagai sistem tunggal, kini manusia dipahami sebagai ekosistem kompleks yang hidup berdampingan dengan triliunan mikroba.
Pendekatan serupa tidak hanya diteliti pada kanker pankreas, tetapi juga mulai diterapkan pada kanker kolorektal, penyakit Parkinson, hingga berbagai gangguan kronis lainnya.
“Kita semakin memahami bahwa jawaban dari berbagai pertanyaan medis bisa saja tersembunyi dalam hal yang selama ini kita abaikan, yaitu feses,” tulis peneliti dari Quadram Institute dalam The Conversation. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
Vegan Bagus Sejak Dini, Dokter: Penyakit Jantung dan Diabetes Kini Menyerang Usia Muda


















