Negara Teluk Pilih Kompromi dengan Iran demi Selamatkan Selat Hormuz

Selat Hormuz. (Foto: Warta Bela Negara)
Iran, MISTAR.ID – Negara-negara penghasil energi di kawasan Teluk Persia menyadari Iran memiliki pengaruh kuat terhadap Selat Hormuz, jalur yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Meski tidak sepenuhnya menerima kondisi tersebut, sejumlah pejabat negara Teluk menilai kesepakatan yang ada masih lebih baik daripada melihat Iran dan Amerika Serikat kembali terlibat dalam konflik militer terbuka.
Laporan The Wall Street Journal, Rabu (12/8/2026), menyebutkan negara-negara Teluk khawatir eskalasi baru justru memperluas serangan ke fasilitas dan infrastruktur energi mereka.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Sebelum konflik berlangsung, sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak melintasi Selat Hormuz setiap hari. Namun, arus pengiriman kini merosot drastis setelah serangkaian serangan Iran.
Data Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah melalui selat tersebut hanya sekitar 2,2 juta barel per hari pada pekan lalu. Angka itu jauh di bawah catatan sekitar 8,5 juta barel per hari sebulan sebelumnya.
Sejumlah negara Teluk sebenarnya sudah berupaya mencari jalur alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz. Arab Saudi, misalnya, menggunakan jaringan pipa darat untuk mengalihkan sebagian minyak menuju pelabuhan di Laut Merah.
Namun, jalur alternatif pun tidak sepenuhnya aman. Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran diketahui menyerang pengiriman minyak Saudi yang dialihkan melalui Laut Merah.
Uni Emirat Arab juga mengambil sejumlah langkah untuk mempertahankan ekspor. Minyak dikirim melalui jalur darat, sementara sebagian kapal yang tetap melewati Hormuz mematikan sistem penanda lokasi untuk mengurangi kemungkinan terdeteksi.
Strategi tersebut sempat membuahkan hasil. Menurut perusahaan pelacak kapal Vortexa, ekspor minyak UEA bahkan sempat kembali ke tingkat sebelum perang pada pertengahan tahun. Namun, kondisi kembali memburuk setelah serangan Iran meningkat.
Abu Dhabi National Oil Company (Adnoc), perusahaan minyak milik negara UEA, menyatakan empat kapalnya terkena serangan rudal atau drone hanya dalam satu pekan terakhir. Sejak perang dimulai, sebanyak 16 kapal Adnoc disebut telah menjadi sasaran serangan.
Dampaknya juga merembet ke luar kawasan Teluk. Mesir, misalnya, turut menghadapi gangguan setelah sebuah kapal tanker gas diserang drone di Pelabuhan Damietta.
Rangkaian serangan tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap jalur energi tidak hanya terkonsentrasi di Selat Hormuz. Ketika konflik Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat, jalur-jalur alternatif yang selama ini diandalkan negara-negara produsen energi pun tetap berada dalam bayang-bayang risiko keamanan.
Dilansir dari Kompas.com, peneliti keamanan Teluk dari University of Birmingham, Umer Karim, menilai negara-negara Arab Teluk kini tidak dapat sepenuhnya menjamin keamanan dan keterbukaan Selat Hormuz.
“Akibatnya, mereka untuk sementara tidak memiliki banyak pilihan selain mengakomodasi sebagian tuntutan Iran,” kata Umer.
Oleh sebab itu, negara-negara Teluk akhirnya lebih memilih berkompromi terhadap kesepakatan jangka pendek untuk membuka Selat Hormuz dibandingkan kembali menghadapi tekanan akibat perang antara Iran dan AS yang dilanjutkan. (Kompas)



















