Monday, July 20, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Kesepakatan Besar Ukraina–Prancis: Pembelian 100 Jet Rafale Di Tengah Jeritan Keluarga Anak yang Dideportasi ke Rusia

Mistar.idSelasa, 18 November 2025 pukul 14.11 WIB
kesepakatan_besar_ukrainaprancis_pembelian_100_jet_rafale_di_tengah_jeritan_keluarga_anak_yang_dideportasi_ke_rusia

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Paris pada hari Senin untuk pertemuan kesembilan mereka sejak dimulainya invasi Rusia. (Foto: Stefano Lorusso/ZUMA Press Wire/Shutterstock melalui The Guardian/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Ukraina resmi menandatangani surat niat untuk membeli hingga 100 jet tempur Rafale dari Prancis, lengkap dengan paket drone dan sistem pertahanan udara. Kesepakatan berskala besar ini disebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemampuan militer jangka panjang Kyiv di tengah perang yang belum menunjukkan tanda mereda.

Penandatanganan dilakukan antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, menegaskan meningkatnya dukungan Paris terhadap Ukraina. Jet Rafale, yang selama ini menjadi andalan Angkatan Udara Prancis, disebut akan menjadi fondasi baru modernisasi angkatan udara Ukraina.

Selain 100 jet Rafale, paket kerja sama mencakup drone tempur, interceptor drone, bom berpemandu, hingga sistem pertahanan udara SAMP/T yang dirancang untuk menghadapi ancaman rudal dan pesawat musuh. Pengiriman diproyeksikan berlangsung bertahap selama hampir satu dekade, sejalan dengan pelatihan pilot serta kesiapan infrastruktur penerbangan Ukraina.

Namun di balik sorotan kesepakatan pertahanan tersebut, muncul isu kemanusiaan yang kembali mencuat. Sejumlah keluarga Ukraina menyuarakan kecemasan mengenai anak-anak mereka yang dideportasi ke Rusia sejak awal invasi pada 2022. Banyak keluarga mengaku memutus kontak selama berbulan-bulan dan tidak memiliki kepastian kapan anak-anak mereka dapat dipulangkan.

Laporan-laporan sebelumnya mengungkap adanya jaringan kamp di wilayah Rusia yang digunakan untuk “indoktrinasi patriotik” terhadap anak-anak Ukraina. Beberapa di antaranya bahkan dilaporkan menerima latihan ala militer dan mengalami perubahan identitas administratif.

Para orang tua menyebut proses pemulangan sangat lambat dan dipenuhi hambatan birokrasi. Banyak yang menuduh Rusia menggunakan anak-anak tersebut sebagai alat tawar dalam negosiasi politik maupun diplomatik.

Di pihak Ukraina, pemerintah menegaskan komitmennya melalui program pemulangan nasional Bring Kids Back UA, yang bertujuan menelusuri, mengidentifikasi, dan mengembalikan anak-anak yang dipindahkan secara paksa ke Rusia.

Kesepakatan besar Ukraina–Prancis ini mempertegas prioritas Kyiv dalam memperkuat pertahanan udara sekaligus membuka pertanyaan: akankah meningkatnya dukungan militer dari Eropa juga diikuti oleh tekanan internasional yang lebih kuat terhadap Moskow terkait isu kemanusiaan, khususnya nasib ribuan anak Ukraina yang hilang?

Pemerintah Ukraina menyatakan bahwa upaya militer dan upaya kemanusiaan harus berjalan beriringan, mengingat masa depan generasi muda negara itu tak kalah penting dibanding kekuatan pertahanan di garis depan.

(berbagaisumber/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN