Monday, August 3, 2026
home_banner_first
HUKUM & PERISTIWA

Warga Dalu Sepuluh B Dirikan Tenda, Desak Penutupan PT Arta Makmur Mandiri

Mistar.idSenin, 3 Agustus 2026 pukul 17.44 WIB
warga_dalu_sepuluh_b_dirikan_tenda_desak_penutupan_pt_arta_makmur_mandiri

Warga mendirikan tenda di depan pabrik racun PT Arta Makmur Mandiri minta pabrik ditutup. (foto:sembiring/mistar)

news_banner

Deli Serdang, MISTAR.ID (3/8/2026) – Aksi demonstrasi warga Dusun VI, Desa Dalu Sepuluh B, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, yang menolak keberadaan pabrik yang mereka sebut sebagai "pabrik racun" di sekitar permukiman kembali berlanjut.

Kali ini, warga mendirikan tenda di depan PT Arta Makmur Mandiri, Senin (3/8/2026). Mereka mendesak agar perusahaan tersebut ditutup.

Janji pertemuan dengan pimpinan perusahaan tidak terealisasi. Perusahaan hanya mengirim seorang staf Human Resources Department (HRD) sebagai perwakilan.

Warga akhirnya menolak pertemuan tersebut dan memilih membubarkan diri dari Kantor Desa Dalu Sepuluh B.

"Kalau tidak bicara langsung dengan bos pabrik racun itu tidak ada gunanya. Karena sudah bolak-balik pertemuan, tetap saja merugikan masyarakat," ujar Agus, warga setempat.

Agus menambahkan, warga sepakat mendesak perusahaan segera ditutup dan aksi demonstrasi akan terus berlanjut hingga tuntutan mereka dipenuhi.

"Warga mendirikan tenda, protes sampai tuntutan dikabulkan. Pabrik racun ini harus ditutup," kata Agus.

Warga menyatakan akan terus menggelar aksi dan berupaya menghentikan aktivitas perusahaan. Saat ini, perusahaan tersebut dijaga personel Babinsa Koramil dan aparat dari Polsek Tanjung Morawa.

Sebelumnya, ratusan warga mendobrak pintu gerbang perusahaan. Mereka memaksa pihak perusahaan menghentikan operasional karena dinilai telah mencemari udara di lingkungan permukiman warga.

Warga mengaku setiap hari mencium bau menyengat yang diduga berasal dari aktivitas perusahaan.

Kepala Desa Dalu Sepuluh B, Wantoro, mengatakan keluhan warga belum mendapat penyelesaian dari pihak perusahaan.

"Bos perusahaan tidak mau menemui warga sehingga kesepakatan tidak terjadi. Keluhan warga sudah disampaikan berulang kali kepada pihak perusahaan, tapi tetap tidak ada penyelesaian, termasuk hari ini gagal lagi," jelas Wantoro.

Sementara itu, pihak perusahaan tidak pernah berhasil ditemui wartawan untuk kepentingan konfirmasi. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN