Friday, June 5, 2026
home_banner_first
HUKUM & PERISTIWA

Dugaan Penganiayaan Oknum BKO TNI di Sergai, Pernyataan APK Kebun Dibantah Korban dan Saksi

Mistar.idRabu, 4 Februari 2026 15.39
journalist-avatar-top
SD
dugaan_penganiayaan_oknum_bko_tni_di_sergai_pernyataan_apk_kebun_dibantah_korban_dan_saksi

APK Kebun Sarang Giting Michell Vanesa Sembiring bersama seorang laki-laki saat dikonfirmasi MISTAR kantor Kebun. (foto:damanik/mistar)

news_banner

Disinggung terkait dugaan beberapa satuan pengamanan Kebun Sarang Giting dan sopir yang melakukan penganiayaan terhadap korban di dalam mobil milik kebun, bahkan telah dilaporkan ke Polres Sergai, Michell menyangkal tuduhan tersebut. Ia mengaku mengetahui informasi itu dari pemberitaan.

“Saya sudah baca beritanya. Saya juga pastikan kepada sopir dan juga yang terkait, yang membawa beliau itu. Sama sekali tidak ada penganiayaan yang dilakukan mereka,” tuturnya.

Sementara itu, pernyataan Michell selaku APK langsung dibantah oleh korban dan saksi. Menurut mereka, pernyataan tersebut tidak benar.

“Ucapan Ibu APK itu tidak benar. Saya luka-luka karena dipukuli secara membabi buta oleh oknum BKO TNI dari salah satu kesatuan berinisial Kopral B, bukan karena dipukuli warga atau massa. Saya mohon Ibu APK jangan hanya mendengarkan keterangan dari BKO. Saya sendiri yang mengalami,” ujarnya.

Pernyataan korban tersebut dibenarkan oleh Diki yang menjadi saksi langsung penganiayaan.

“Saya langsung melihat Bang Edi Saputra dipukuli oleh oknum BKO TNI inisial B itu. Memang warga ramai mengerumuni, tapi tidak ada yang ikut memukul. Saya melihat persis sampai Bang Edi dibawa ke klinik dari lokasi itu. Jadi kalau dibilang dipukuli warga atau massa, itu tidak benar,” tegasnya kepada MISTAR, Rabu (4/2/2026).

Dikatakannya, saat itu dirinya dan korban Edi Saputra berboncengan mengendarai sepeda motor untuk mengantar karet dan bertemu di jalan Desa Baja Ronggi, Kecamatan Dolok Masihul, dengan oknum BKO TNI berinisial B.

“Di jalan Desa Baja Ronggi kami berselisihan dengan BKO TNI inisial B. Kemudian BKO itu berbalik arah mengejar kami. Karena saya takut jatuh saat dibonceng, karet itu saya buang. Kami terus dipepet dan ditabrak hingga terjatuh di pinggir jalan Kota Tengah. Saya melihat BKO itu mencekik leher Bang Edi dan memukulinya secara membabi buta,” tuturnya.

Sementara itu, oknum TNI berinisial B saat dikonfirmasi melalui WhatsApp belum memberikan penjelasan.

Diberitakan sebelumnya, Edi Saputra, 51 tahun, warga Dusun V Kampung Lalang, Desa Tanjung Harap, Kecamatan Serba Jadi, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), mengaku dianiaya oleh BKO PTPN IV Regional I Kebun Sarang Giting dari oknum TNI berdinas di salah satu kesatuan berpangkat kopral berinisial B di depan masyarakat, tepatnya di pinggir jalan Desa Kota Tengah, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Selasa (27/1/2026) sekitar pukul 19.30 WIB.

Penganiayaan tersebut diduga terjadi karena korban dituduh melakukan pencurian karet sekitar 20 kilogram milik PTPN IV Kebun Sarang Giting.

Akibat penganiayaan tersebut, kondisi Edi Saputra Nasution selaku korban sangat memprihatinkan hingga harus terbaring di rumah. Ia mengalami luka di bagian hidung sebelah kiri hingga sulit bernapas, empat gigi copot sehingga sulit makan dan harus mengonsumsi bubur, mata kiri kabur, luka di pelipis sekitar 3 sentimeter, serta benjolan di bagian belakang kepala yang sering berdenyut. Selain menganiaya, oknum TNI tersebut juga sempat memperlihatkan senjata api jenis FN dan mengokangnya di depan korban.

Menurut Edi Saputra Nasution, kronologi peristiwa bermula saat dirinya dan temannya membawa karet sekitar 20 kilogram yang diduga milik PTPN IV Kebun Sarang Giting menggunakan sepeda motor Honda Revo Fit bernomor polisi BK 2004 ABQ. Mereka dikejar oleh oknum TNI berinisial B yang mengendarai sepeda motor Yamaha MX. Setelah mendekat, oknum TNI tersebut menendang sepeda motornya hingga terjatuh di pinggir jalan Desa Kota Tengah.

“Saya ini ojek, mengantarkan getah atau karet punya orang ke agen getah. Saya berselisihan dengan BKO inisial B, kemudian BKO itu berbalik mengejar kami dan meneriaki kami maling sepeda motor. Karena panik, saya tancap gas, lalu karet yang dibawa teman saya dibuang. Tinggal kami berdua berboncengan. Kami dikejar sambil diteriaki maling sampai ke Desa Kota Tengah. Di situ keadaan ramai, saya memperlambat sepeda motor,” katanya saat ditemui MISTAR di kediamannya, pada Sabtu (31/1/2026) kemarin. (hm27)

Halaman:

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN