Friday, September 4, 2026
home_banner_first
HIBURAN

LTTMF 2026 Buka Pintu Gerbang Talenta Musik Tradisional Sumut ke Pasar Internasional

Mistar.idJumat, 4 September 2026 pukul 15.03 WIB
lttmf_2026_buka_pintu_gerbang_talenta_musik_tradisional_sumut_ke_pasar_internasional

Direktur LTTMF, Ramanta Sinulingga. (foto: susan/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Lake Toba Traditional Music Festival (LTTMF) kembali digelar untuk menjadi wadah yang mempertemukan para musisi tradisional nusantara dengan produser serta direktur festival tingkat nasional hingga internasional. Memasuki penyelenggaraan tahun keenamnya, festival ini membawa misi besar untuk menciptakan ekosistem industri dan membuka pintu gerbang internasional bagi talenta musik lokal.

Direktur LTTMF, Ramanta Sinulingga, mengatakan festival yang berlangsung pada 5-6 September 2026 ini mengusung tiga konsep utama yaitu talkshow, speed meeting (penyelarasan pasar atau pitching musik), dan showcase. Festival digelar di The Kaldera Toba Nomadic Escape.

“Sebenarnya poin pentingnya adalah di speed meeting, bagaimana para performance Sumatera Utara, Sumatra dan juga internasional bisa face to face dengan sembilan delegasi yang kami undang untuk melakukan dialog interaktif,” ujarnya, Jumat (4/9/2026).

Sembilan delegasi yang diundang di antaranya Bagas dari Jazz Gunung Bromo, Satria Ramadhan dari Axean Festival di Bali, Hilmi Faiq dari Harian Kompas, Viky Sianipar, Rino Dezapati dari Rio Rhythm, serta Agus Setiawan Basuni dari World Music Jazz Jakarta.

Kemudian dari internasional ada Jay Nayoung Jeong dari Korea, Muhammad Arif dari Malaysia dan Ridwan Jaelani dari Singapura. “Jadi delegasi ini ada yang promotor, produser, direktur festival, kemudian record label. Mereka kita hadirkan untuk bisa membaca ataupun menggaet talenta-talenta baik dari Sumut, Sumatra dan internasional untuk bisa perform di festival mereka,” katanya.

Ramanta menekankan festival ini bertujuan untuk menciptakan ekonomi. Selama ini, pemahaman masyarakat tentang prospek kerja pemusik tradisional masih hanya sebatas pesta dan penelitian belaka.

“Tapi faktanya banyak sekali, bisa jadi booking agent, bisa jadi produser dan lain-lain. Nah ini salah satu cara kita untuk memberikan edukasi,” ucapnya.

Festival yang bekerja sama dengan Rumah Karya Indonesia (RKI), Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Film, Musik dan Seni, kemudian Manajemen Talenta Nasional (MTN), Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini menargetkan 122 penampil dengan kehadiran pengunjung berkisar 500 hingga 1.000 orang per harinya.

Sejumlah talenta mulai dari Aceh hingga Lampung akan menampilkan kekayaan musik tradisional masing-masing. Sumut sendiri akan menghadirkan dari Karo, Toba, Simalungun dan lainnya.

“Jadi musik tradisional itu bukan berarti pure kita memainkan musik tradisional, tapi bagaimana membungkus musik tradisional ini menjadi sebuah olahan. Bisa masuk ke jazz, rock, pop, dan lain sebagainya untuk menarik minat orang,” kata Ramanta.

Mulai tahun ini, LTTMF akan menerapkan sistem ganjil genap. Setiap tahun ganjil, kegiatan difokuskan pada pengembangan ekosistem di Sumut. Pada masa ini, pihaknya tidak akan mengundang performance dari luar. “Kita fokus cari talenta kemudian kita menginkubasi mereka untuk persiapan,” ujarnya.

Dan saat memasuki tahun genap misalnya 2028, pihaknya akan mulai masuk lagi ke wilayah market dengan mengundang berbagai delegasi dan juga mengundang performance dari luar termasuk Sumut untuk bersaing memperebutkan hati audiens dan delegasi.

“Kita berharap Lake Toba Traditional Music Festival ini bisa menjadi wadah untuk mewujudkan Sumut jadi pintu gerbang kelompok musik tradisional bisa keluar ke berbagai negara. Karena kita kan sangat strategis, dekat dengan Singapura, Malaysia,” tuturnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN