Rupiah Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS, Ketegangan Selat Hormuz Tekan Pasar

Ilustrasi pergerakan nilai tukar Rupiah yang fluktuatif pada layar monitor perdagangan. (Foto: Kompas)
Medan, MISTAR.ID
Dinamika geopolitik global di kawasan Timur Tengah kembali menjadi faktor utama yang menekan pergerakan mata uang domestik pada awal pekan.
Ketidakpastian terkait implementasi kesepakatan damai di Selat Hormuz mengaburkan sentimen positif pasar regional dan mendorong Rupiah kembali tertekan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data pasar spot pada Senin (22/6/2026) pagi, nilai tukar Rupiah dilaporkan melemah ke level Rp17.800 per Dolar AS.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah pergerakan fluktuatif Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak di dua zona berbeda dan sempat menguat tipis ke level 6.217 pada sesi pembukaan perdagangan.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan memanasnya situasi di Selat Hormuz menjadi faktor dominan yang membebani psikologis pelaku pasar valuta asing.
"Belakangan ini banyak perkembangan yang menunjukkan implementasi kesepakatan damai antara Iran dan AS tidak berjalan sesuai poin-poin yang telah disepakati sebelumnya. AS masih melontarkan ancaman, sementara Iran beberapa kali melakukan aksi buka-tutup jalur pelayaran di Selat Hormuz," kata Gunawan, Senin (22/6/2026).
Ketegangan di jalur pelayaran strategis dunia tersebut turut memicu volatilitas harga minyak mentah global yang saat ini bergerak dalam rentang 75 hingga 79 dolar AS per barel.
Menurut Gunawan, apabila konflik terus berlanjut, dampak geopolitiknya berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pasar keuangan nasional maupun global.
Selain faktor geopolitik, penguatan Dolar AS terhadap Rupiah juga didorong ekspektasi bahwa era suku bunga tinggi atau high for longer masih akan berlangsung dalam jangka waktu lebih panjang.
Keputusan Bank Sentral China (PBoC) mempertahankan suku bunga pinjaman di level 3 persen dinilai menjadi sinyal bahwa negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu masih mengedepankan kebijakan moneter ketat untuk menjaga stabilitas domestik.
"Tren suku bunga bank sentral dunia yang cenderung bertahan di level tinggi memberikan sinyal bahwa arah kebijakan moneter global masih ketat. Kondisi ini diperkuat oleh ekspektasi kenaikan inflasi AS dalam sepekan ke depan yang dapat mendorong The Fed mempertahankan sikap hawkish," ujarnya.
Ekspektasi pengetatan moneter global dan risiko inflasi juga memengaruhi pergerakan aset safe haven. Harga emas dunia pada perdagangan pagi dilaporkan masih berada di bawah tekanan dan diperdagangkan di kisaran 4.187 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,4 juta per gram.
"Pelaku pasar menghadapi kekhawatiran ganda. Di satu sisi ada risiko inflasi akibat harga minyak yang tinggi, sementara di sisi lain suku bunga yang bertahan tinggi berpotensi menekan harga emas. Faktor-faktor ini membuat pergerakan aset keuangan, termasuk Rupiah, diperkirakan tetap dinamis dan rentan terkoreksi dalam beberapa hari ke depan," tutur Gunawan.
PREVIOUS ARTICLE
Harga Cabai Merah di Medan Utara Tidak Stabil Akibat Musim Hujan




















