Rupiah Terpuruk ke Rp17.850, Sentimen Negatif MSCI Bayangi Pasar Keuangan

Ilustrasi pergerakan grafik rupiah yang bergerak fluktuatif pada layar monitor. (Foto: Kompas)
Medan, MISTAR.ID
Pasar keuangan domestik dihantam gelombang sentimen negatif pada pembukaan perdagangan menjelang akhir pekan. Keputusan lembaga pemeringkat internasional, Morgan Stanley Capital International (MSCI), serta keperkasaan indeks Dolar AS (USD Index) memicu tekanan ganda yang menyeret kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.
Mata uang rupiah dilaporkan kembali mengalami pelemahan tajam hingga menembus level Rp17.850 per Dolar AS. Sementara di lantai bursa, IHSG langsung terjerembab ke zona merah dan dibuka melemah di level 6.161 pada sesi awal perdagangan.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, memaparkan bahwa pelaku pasar modal di Tanah Air tengah bereaksi negatif merespons evaluasi berkala yang dirilis oleh MSCI.
“Meskipun MSCI terpantau masih mempertahankan status Indonesia di dalam kelompok pasar berkembang (emerging market), lembaga tersebut menyematkan peringkat negatif untuk kriteria aliran informasi (information flow) di Indonesia. Hasil putusan ini menjadi kabar buruk yang langsung direspons dengan aksi jual oleh para investor,” kata Gunawan, Jumat (19/6/2026).
Kondisi pasar modal dan valuta asing yang memburuk ini seolah mengabaikan sentimen positif global, seperti tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah tersebut rupanya belum mampu menjadi stimulus yang kuat bagi kinerja sektor keuangan Tanah Air.
Menurut Gunawan, pasar saat ini jauh lebih sensitif terhadap sejumlah isu fundamental domestik serta pergerakan indikator makro eksternal.
Dari dalam negeri, pasar masih mencerna dampak kebijakan moneter ketat Bank Indonesia (BI) yang baru saja menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) demi menjinakkan inflasi dan menahan ekspektasi pasar.
“Di sisi lain, tekanan eksternal dipicu oleh keperkasaan USD Index yang terpantau merangkak naik ke level 100,7. Kenaikan indeks ini menjadi motor utama yang menekan kinerja mata uang rupiah sepanjang sesi perdagangan berlangsung,” ucap Gunawan.
Beruntung, tekanan di pasar saham dan valas sedikit terselamatkan oleh dinamika komoditas energi. Harga minyak mentah dunia dilaporkan melandai di bawah 80 Dolar AS per barel pada sesi perdagangan pagi.
Penurunan harga minyak ini berpeluang meminimalkan pembengkakan defisit transaksi berjalan sehingga menahan kejatuhan rupiah agar tidak merosot lebih dalam.
Beralih ke komoditas pelindung kekayaan (safe haven), harga emas dunia juga tidak luput dari tekanan aksi ambil untung. Logam mulia ini ditransaksikan melandai di kisaran 4.185 Dolar AS per ons troy, atau setara dengan kisaran Rp2,4 juta per gram.
Penurunan ini terjadi akibat mencuatnya kembali spekulasi pasar terkait peluang kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS, The Fed, pada paruh kedua tahun 2026.
Para pelaku pasar global dilaporkan masih dihantui oleh bayang-bayang laju inflasi pasca lonjakan harga minyak mentah pada periode sebelumnya.
“Secara teknikal, koreksi tajam pada harga emas belakangan ini sebenarnya sudah sangat jenuh dan mulai memberikan ruang bagi terjadinya pantulan teknikal (technical rebound). Ditambah lagi, adanya aksi akumulasi pembelian emas yang mulai gencar dilakukan oleh sejumlah bank sentral di berbagai negara memberikan sinyal kuat adanya perbaikan harga emas dalam waktu dekat,” ujar Gunawan. (hm25)
BERITA TERPOPULER


















