Thursday, June 18, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Rupiah Menguat ke Rp17.730 per Dolar AS, BI Optimistis Tren Positif Berlanjut

Mistar.idKamis, 18 Juni 2026 17.04
journalist-avatar-top
rupiah_menguat_ke_rp17730_per_dolar_as_bi_optimistis_tren_positif_berlanjut

Ilustrasi. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan pada 17 Juni 2026 kurs rupiah berada di level Rp17.730 per dolar AS.

Menurut Perry, posisi tersebut mencerminkan penguatan sekitar 0,76 persen dibandingkan akhir Mei 2026. Penguatan rupiah didorong oleh langkah-langkah stabilisasi yang dilakukan BI di tengah ketidakpastian ekonomi global serta tingginya kebutuhan valuta asing dari korporasi domestik.

“Perkembangan ini dipengaruhi oleh kebijakan penguatan stabilitas nilai tukar yang ditempuh Bank Indonesia untuk meredam dampak ketidakpastian global dan tingginya permintaan valas dari sektor korporasi,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual, Kamis (18/6/2026).

Untuk menjaga kestabilan rupiah, BI meningkatkan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore maupun instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan transaksi swap di dalam negeri.

Selain itu, BI juga memperkuat daya tarik investasi melalui kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Hingga 15 Juni 2026, nilai outstanding SRBI tercatat mencapai Rp1.021,1 triliun, dengan kepemilikan investor asing sebesar Rp238,1 triliun atau sekitar 23,3 persen dari total yang beredar.

BI turut memberikan insentif berupa penurunan biaya swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing hingga 10 persen. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong masuknya modal asing sekaligus mengurangi beban biaya yang selama ini ditanggung investor.

Di sisi lain, BI memperluas instrumen operasi moneter valas melalui transaksi spot dan swap antara yuan Tiongkok (RMB) dan rupiah di pasar offshore. Langkah tersebut sejalan dengan meningkatnya penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Tiongkok.

Perry meyakini rupiah ke depan akan tetap stabil dan berpotensi menguat. Optimisme itu didukung oleh kebijakan BI yang konsisten, imbal hasil investasi yang kompetitif, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai masih solid.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN