Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Petani Cabai Sumut Terhimpit: Harga Anjlok, Biaya Pupuk Melonjak akibat Geopolitik

Mistar.idJumat, 27 Maret 2026 pukul 09.31 WIB
petani_cabai_sumut_terhimpit_harga_anjlok_biaya_pupuk_melonjak_akibat_geopolitik

Ilustrasi pupuk non subsidi. (Foto: PT Pupuk Indonesia)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Sektor pertanian di Sumatera Utara, khususnya wilayah Deli Serdang, tengah menghadapi tekanan ganda. Kenaikan harga bahan baku pupuk global akibat ketegangan geopolitik Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai berdampak ke daerah, di saat harga jual cabai justru anjlok drastis di tingkat petani.

Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, memperingatkan kondisi ini menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan dan potensi inflasi ke depan.

Berdasarkan data tradingeconomics.com, harga sulfur sebagai bahan baku pupuk mencapai rekor tertinggi di level CNY 5.383 per ton. Dampaknya mulai terasa di pasar lokal Deli Serdang dalam dua pekan terakhir.

Harga pupuk urea non-subsidi naik dari Rp400.000 menjadi Rp450.000 per sak, pupuk KCL dari Rp400.000 menjadi Rp430.000 per sak, serta plastik mulsa (10 kg) dari Rp250.000 menjadi Rp280.000 per gulung.

“Gangguan rantai pasok akibat konflik global memicu kenaikan bahan baku. Hal ini berpotensi melemahkan kemampuan produksi petani dan memicu inflasi di masa mendatang,” kata Gunawan, Jumat (27/3/2026).

Ironisnya, di tengah lonjakan biaya produksi, harga cabai merah justru turun tajam. Berdasarkan pantauan PIHPS, harga rata-rata di Medan berada di angka Rp19.800 per kilogram, bahkan di Pasar Tanjung Morawa turun hingga Rp16.000 per kilogram.

Di tingkat petani, kondisi lebih memprihatinkan. Harga jual hanya berkisar Rp7.000 hingga Rp10.000 per kilogram, jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) sebesar Rp15.500 per kilogram. Idealnya, harga jual ke konsumen minimal Rp27.000 per kilogram agar petani memperoleh keuntungan dan menjaga keberlanjutan usaha.

“Petani saat ini menjual di bawah biaya produksi, ditambah ancaman kenaikan pupuk non-subsidi. Ini berpotensi menurunkan produksi karena petani kehilangan modal untuk musim tanam berikutnya,” ujarnya.

Gunawan menegaskan, persoalan modal dan mahalnya pupuk akan menjadi tantangan utama pada musim tanam mendatang. Jika tidak segera diantisipasi, skala produksi pertanian di Sumatera Utara berpotensi menyusut.

Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah mitigasi agar petani tetap dapat berproduksi. Selain menjaga stabilitas harga jual, akses pupuk yang terjangkau juga harus dipastikan agar petani mampu melanjutkan usaha taninya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN