Thursday, July 23, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Konflik AS-Iran Picu Kenaikan Harga Pakan Ternak, Protein Murah Kian Sulit

Mistar.idKamis, 23 Juli 2026 pukul 18.23 WIB
konflik_asiran_picu_kenaikan_harga_pakan_ternak_protein_murah_kian_sulit

Ilustrasi harga pakan naik. (foto: kompas/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Konfilk Amerika Serikat (AS) dan Iran sejak awal 2026 berdampak pada harga pakan ternak global. Hal ini membuat menipisnya harapan masyarakat mendapat protein murah.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menjelaskan sejak Februari 2026 hingga sekarang, harga pakan ternak mengalami kenaikan terus-menerus tanpa pernah turun.

"Harga bahan baku pakan ternak sperti jagung terus berada di atas Rp6.000 per kg. Di pedagang, harga jagung pipil sekitar Ro6.000 hingga Rp6.500 per kg," katanya, Kamis (23/7/2026).

Selain jagung, Rupiah juga berpengaruh pada harga pakan. Pada Februari hingga Juli 2026, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS naik di rentang Rp16.750 hingga Rp18.150. Faktor itu memicu kenaikan harga pakan belasan persen, hasil pemantauan Gunawan, harga pakan naik 12,2 persen yang membuat Harga Pokok Produksi (HPP) di peternak naik.

Biaya produksi di hulu yang meningkat, berdampak pada harga lauk pauk di tingkat konsumen. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional per 22 Juli 2026, harga daging ayam mencapai Rp38.900 per kg.

Di Sumut, harga daging ayam berhasil sentuh Rp42.750 per kg. "Sampel yang saya amati, harga daging ayam di rentang Rp28.000 hingga Rp41.000 per kg sejak Februari lalu. Terendah terjadi saat permintaan turun, seperti libur sekolah dan bulan Muharam, saat ini dijual Rp35.000 per kg," ucapnya.

Kemudian, harga telur ayam di pasaran sekitar Rp1.600 hingga Rp2.200 per butir. Sedangkan daging sapi cukup tinggi, yaitu Rp145.000 hingga Rp160.000 per kg.

Gunawan memberikan peringatan pengendalian harga pangan ke depan akan bergantung pada dinamika geopolitik yang terus meningkat. Jika terus mahal, maka daya beli masyarakat, khususnya menengah ke bawah akan semakin kecil.

"Ancaman inflasi terus mengintai, pemerintah harus jeli merumuskan kebijakan untuk memitigasi dan mengintervensi biaya produksi di peternak hingga membentuk harga wajar di level konsumen," ujarnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN