Tuesday, September 8, 2026
home_banner_first
SUMUT

Tiga Bakteri Ditemukan dalam MBG Karo, Orang Tua Baru Tahu Saat RDP

Mistar.idSelasa, 8 September 2026 pukul 10.42 WIB
tiga_bakteri_ditemukan_dalam_mbg_karo_orang_tua_baru_tahu_saat_rdp

Para orang tua korban keracunan MBG mengikuti RDP di Gedung DPRD Karo yang dihadiri Ketua DPRD Karo, Dandim 0205/TK, Kapolres Karo, Bupati Karo, jajaran terkait, serta pihak SPPG. (foto: handover/Mistar)

news_banner

Karo, MISTAR.ID - Orang tua korban keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, geram setelah mengaku baru mengetahui hasil uji laboratorium terhadap makanan yang dikonsumsi anak mereka saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung DPRD Karo, Senin (7/9/2026).

Hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara menunjukkan adanya tiga jenis bakteri pada sampel menu MBG yang diperiksa.

Berdasarkan hasil laboratorium bernomor 008.2/4129/UPTD LABKES/VIII/2026 tertanggal 16 Agustus 2026 yang diterima Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, sampel nasi dinyatakan positif mengandung bakteri Bacillus cereus.

Sampel ikan dencis yang menggunakan saus dari sekolah positif mengandung Staphylococcus aureus. Sedangkan sampel buah melon dinyatakan positif mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli).

Selain sampel makanan, pemeriksaan terhadap sisa muntahan korban juga menunjukkan adanya Bacillus cereus.

Pemaparan hasil laboratorium tersebut memicu reaksi keras para orang tua siswa. Mereka mempertanyakan mengapa informasi itu baru disampaikan dalam RDP, meski sejak kejadian mereka mengaku terus mempertanyakannya.

"Kenapa baru sekarang kalian bilang dalam RDP saat ini. Dari kejadian sampai anak-anak kami bolak-balik ke rumah sakit. Kami terus mempertanyakan hal ini, tapi kalian menutupinya," teriak salah seorang orang tua dengan nada emosi saat RDP berlangsung.

Menurut para orang tua korban, selama ini mereka tidak mengetahui bagaimana menangani kondisi anak-anak mereka karena tidak mengetahui hasil laboratorium dan jenis bakteri yang ditemukan.

"Kenapa kalian rahasiakan hasil uji lab ya. Apa kalian sengaja membunuh anak kami," teriak orang tua korban lainnya.

Fitriani, salah seorang orang tua siswa yang mengalami keracunan MBG, juga mengeluhkan penanganan medis terhadap anaknya. Menurutnya, selama menjalani perawatan, anak hanya mendapat infus, antasida, dan antibiotik.

"Selama dirawat anak kami hanya diberi obat antasida dan antibiotik. Tak ada dokter spesialis yang menangani. Harga obat yang diberikan juga sangat murah, dari kisaran harga Rp8 ribu dan paling mahal Rp50 ribu. Pantaslah anak-anak kami tak sembuh-sembuh," ungkap Fitriani.

Dengan ditemukannya tiga jenis bakteri tersebut, para orang tua berharap dokter segera mengetahui hubungan antara kontaminasi makanan dengan gejala yang dialami anak-anak mereka.

Para orang tua korban juga menanti penjelasan lebih lengkap dari pemerintah mengenai bagaimana bakteri tersebut bisa ditemukan dalam makanan MBG, pada tahap mana kontaminasi terjadi, serta siapa yang bertanggung jawab terhadap pengawasan keamanan pangan sebelum makanan dibagikan kepada siswa.

Keracunan yang menimpa ratusan murid, termasuk siswa SMA 1 Berastagi dan Yayasan Bersama, terjadi pada Jumat (14/8/2026). (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN