IHSG Anjlok dan Rupiah Terkapar ke Rp17.535

Ilustrasi grafik pergerakan nilai tukar Rupiah yang menunjukkan pelemahan ke level Rp17.535 per Dolar AS. (Foto: Gemini)
Medan, MISTAR.ID
Pasar keuangan dalam negeri dihantam gelombang sentimen negatif pada perdagangan hari ini, Rabu (13/5/2026). Kombinasi dari rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang memanas serta perombakan (rebalancing) indeks MSCI Indonesia memicu aksi jual masif yang menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa tekanan utama berasal dari realisasi inflasi AS bulan April yang tercatat sebesar 3,8 persen secara tahunan (y-o-y) , lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Sementara itu, inflasi inti AS juga bertahan di level tinggi 2,8 persen y-o-y.
Data inflasi yang melampaui ekspektasi ini memperkuat proyeksi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan mempertahankan sikap kebijakan moneter yang ketat (hawkish).
"Dengan realisasi inflasi sebesar itu, The Fed diproyeksikan akan lebih bersikap hawkish. Spekulasi yang berkembang saat ini mengarah pada kemungkinan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan dalam jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan semula," kata Gunawan, Rabu (13/5/2026).
Kondisi ini memicu pelebaran selisih (spread) suku bunga antara The Fed dan Bank Indonesia (BI), yang secara langsung memukul nilai tukar Rupiah. Terpantau, Rupiah melemah tajam ke level Rp17.535 per Dolar AS pada perdagangan hari ini.
Selain faktor makroekonomi global, pasar saham domestik juga tertekan oleh pengumuman dari Morgan Stanley Capital Indonesia (MSCI) . Lembaga pemeringkat saham dunia tersebut baru saja melakukan rebalancing efek yang merugikan posisi emiten Indonesia.
"Sentimen negatif lainnya datang dari rebalancing indeks MSCI. Terdapat 6 emiten yang dikeluarkan dari komposisi MSCI Indonesia Index, dan yang lebih memberatkan adalah tidak adanya emiten baru yang masuk menggantikan posisi tersebut," ucap Gunawan.
Respons pasar terhadap rentetan berita negatif ini langsung terlihat sejak pembukaan perdagangan. IHSG dibuka melemah di level 6.763 dan terus menunjukkan tren penurunan.
"IHSG saat ini berpeluang besar untuk menguji level psikologis 6.700. Ada banyak sentimen negatif yang menekan kinerja pasar keuangan tanah air hari ini. Dalam jangka pendek, Rupiah juga masih akan cenderung melemah terhadap Dolar AS hingga pasar menemukan arah baru kebijakan suku bunga ke depan," ujar Gunawan.
Kondisi pasar yang volatil ini mengharuskan para investor untuk lebih berhati-hati dan mencermati perkembangan kebijakan suku bunga dari Bank Indonesia dalam merespons tekanan eksternal yang kian besar. (hm20)





















