Thursday, September 3, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Minyak Dunia Naik 1 Persen di Tengah Konflik AS-Iran

Mistar.idKamis, 3 September 2026 pukul 11.10 WIB
harga_minyak_dunia_naik_1_persen_di_tengah_konflik_asiran

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Harga minyak dunia naik sekitar 1 persen pada akhir perdagangan Rabu (2/9/2026) waktu setempat atau Kamis (3/9/2026) pagi WIB. Kenaikan terjadi di tengah memanasnya konflik militer Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dunia.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 98 sen AS atau 1 persen menjadi 95,63 dollar AS per barrel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 79 sen AS atau 0,9 persen menjadi 91,01 dollar AS per barrel.

Pergerakan harga minyak berlangsung volatil sepanjang perdagangan. Harga Brent dan WTI sempat masing-masing naik hingga 2 dollar AS per barrel, tetapi juga sempat turun sekitar 1 dollar AS.

Level tertinggi kedua harga acuan tersebut selama perdagangan merupakan yang tertinggi sejak 24 Juli 2026.

Konflik AS-Iran kini memasuki bulan ketujuh. Serangan terbaru menjadi bentrokan terbesar antara Washington dan Teheran sejak Juli 2026. Pasukan AS menyerang wilayah pesisir selatan Iran, sementara Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di berbagai wilayah.

"Serangan terbaru menandai eskalasi signifikan setelah sekitar satu bulan relatif tenang, dengan AS menargetkan radar Iran dan kemampuan peletakan ranjau, sementara Iran membalas dengan menyerang posisi-posisi AS di seluruh kawasan," kata Direktur perusahaan pialang Liquidity Energy, Mark Schaefer, dalam catatannya.

Menurut Schaefer, perhatian utama pasar minyak kini tertuju pada kemungkinan konflik kembali mengganggu arus fisik minyak di kawasan Timur Tengah.

"Kekhawatiran utama pasar minyak adalah apakah pertempuran yang kembali terjadi akan menyebabkan penurunan lebih lanjut dalam arus fisik minyak melalui kawasan tersebut," ujarnya.

Perang AS-Iran bermula dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap sejumlah target di Iran pada akhir Februari 2026. Sejak saat itu, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz praktis terganggu.

Sebelum konflik berlangsung, jalur perairan strategis tersebut dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Sejumlah negara berupaya membatasi kenaikan harga minyak dengan mencari sumber pasokan alternatif serta menggunakan cadangan minyak yang tersedia. Namun, cadangan tersebut juga terus menurun.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan serangan AS terbaru akan semakin membatasi lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.

Data awal perusahaan pelacakan kapal Kpler menunjukkan hanya empat kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu. Jumlah tersebut berada di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 13 kapal.

Garda Revolusi Iran juga mengatakan dua kapal tanker minyak terkena ranjau laut dan mengalami kerusakan saat berupaya melintasi selat tersebut.

Iran juga menambah daftar kapal yang dianggap tidak mematuhi aturan. Kapal-kapal tersebut dapat dikenai denda, disita, atau ditahan jika mencoba melintasi Selat Hormuz.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN