Thursday, September 3, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Inflasi Sumut Agustus 0,43 Persen, Pengamat: Harga Ayam dan Cabai Diprediksi Naik

Mistar.idKamis, 3 September 2026 pukul 12.32 WIB
inflasi_sumut_agustus_043_persen_pengamat_harga_ayam_dan_cabai_diprediksi_naik

Penjual ayam potong ras di Pasar Petisah, Medan. (Foto: Amita/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Inflasi Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tercatat 0,43 persen secara bulanan pada Agustus 2026. Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan harga daging ayam menjadi penyumbang utama.

Menurutnya, masih terdapat potensi inflasi pada September ini. Terdapat skenario kenaikan harga pada beberapa komoditas utama, seperti daging ayam, cabai merah, dan cabai hijau.

"Tiga komoditas itu diprediksi akan terus mengalami kenaikan, khususnya cabai, di mana pasokannya menyusut karena masa panen di Kabupaten Batu Bara berakhir," katanya, Kamis (3/9/2026).

Terkait harga daging ayam yang tergolong sangat mahal, Gunawan menyebutkan situasi tersebut sebenarnya dapat menekan permintaan konsumen dan memicu penurunan harga secara alami.

Namun, kekhawatiran terbesar justru terjadi pada harga pakan ternak yang mengalami kenaikan. Harga jagung pipil saat ini menyentuh Rp6.250 per kilogram (kg), atau naik dari Rp6.000. Hal tersebut semakin diperberat oleh proyeksi ketersediaan daging ayam yang diperkirakan turun dalam dua minggu ke depan.

"Ada kerentanan juga di komoditas minyak goreng curah, daging sapi, dan gula pasir. Untuk industri minyak goreng, kenaikan harga dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) global berkisar 5.000 ringgit per ton, atau tertinggi sejak Desember 2024," ucapnya.

Komoditas gula pasir juga menjadi perhatian karena musim giling tebu di Sumut telah berakhir. Hal ini membuat pasokan gula dari pabrik penggilingan lokal menipis, sehingga pemenuhan kebutuhan masyarakat Sumut harus bergantung pada pasokan dari wilayah lain.

"Potensi kenaikan harga daging sapi juga bukan cuma dipicu kenaikan harga sapi bakalan (sapi yang akan digemukkan atau dipotong), tapi imbas dari meningkatnya permintaan. Konsumen mulai mengganti protein ke daging sapi karena harga daging ayam yang mahal," ujarnya.

Selain bahan pangan pokok, Gunawan juga memproyeksikan harga produk kebutuhan harian, seperti perlengkapan mandi dan produk perawatan rumah tangga, masih cenderung mahal dan sulit turun pada September ini. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN