Harga Minyak Dunia Naik 1 Persen di Tengah Konflik AS-Iran

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Namun, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pada Selasa bahwa sebanyak 17 juta barrel minyak telah melintasi Selat Hormuz pada Senin. Menurut dia, jumlah tersebut merupakan volume minyak mentah terbesar yang melewati jalur tersebut sejak perang Iran dimulai.
Di sisi lain, Irak meningkatkan ekspor minyaknya pada Agustus dan pengiriman diperkirakan kembali meningkat pada September. Menurut sumber industri dan data pelayaran, keuntungan yang besar serta persetujuan Iran terhadap kapal tanker Irak untuk melintasi Selat Hormuz telah mendorong pembeli meningkatkan pembelian.
"Meski peningkatan konflik akan memperlambat transit melalui Selat Hormuz dalam jangka pendek, pasar telah menyerap fakta bahwa pasokan minyak alternatif masih dapat mencapai pasar pada akhirnya," kata Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial, Dennis Kissler.
Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) diperkirakan mempertahankan kebijakan produksi minyak pada Oktober 2026.
Tiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa keputusan itu kemungkinan diambil dalam pertemuan OPEC+ pada Minggu mendatang.
Kelompok produsen minyak tersebut bulan ini menyelesaikan pencabutan salah satu lapisan pemangkasan produksi dan selanjutnya mulai berfokus pada pembahasan kuota produksi untuk 2027.
Dari perkembangan lain, Rusia melancarkan serangan besar menggunakan rudal dan drone terhadap infrastruktur energi di wilayah Odesa, Ukraina selatan. Operator sistem transmisi listrik Ukraina, Ukrenergo, mengatakan serangan tersebut terjadi pada Rabu dini hari.
Sementara itu, di AS, persediaan minyak mentah turun 4,5 juta barrel pada pekan lalu. Penurunan ini lebih besar dibandingkan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memprediksi penurunan persediaan sebesar 1,1 juta barrel. (hm25/Kompas.com)
PREVIOUS ARTICLE
Dolar AS Melemah terhadap Rupiah, Turun ke Rp17.698























