Thursday, September 3, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Minyak Dunia Naik 1 Persen di Tengah Konflik AS-Iran

Mistar.idKamis, 3 September 2026 pukul 11.10 WIB
harga_minyak_dunia_naik_1_persen_di_tengah_konflik_asiran

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

news_banner

Namun, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pada Selasa bahwa sebanyak 17 juta barrel minyak telah melintasi Selat Hormuz pada Senin. Menurut dia, jumlah tersebut merupakan volume minyak mentah terbesar yang melewati jalur tersebut sejak perang Iran dimulai.

Di sisi lain, Irak meningkatkan ekspor minyaknya pada Agustus dan pengiriman diperkirakan kembali meningkat pada September. Menurut sumber industri dan data pelayaran, keuntungan yang besar serta persetujuan Iran terhadap kapal tanker Irak untuk melintasi Selat Hormuz telah mendorong pembeli meningkatkan pembelian.

"Meski peningkatan konflik akan memperlambat transit melalui Selat Hormuz dalam jangka pendek, pasar telah menyerap fakta bahwa pasokan minyak alternatif masih dapat mencapai pasar pada akhirnya," kata Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial, Dennis Kissler.

Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) diperkirakan mempertahankan kebijakan produksi minyak pada Oktober 2026.

Tiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa keputusan itu kemungkinan diambil dalam pertemuan OPEC+ pada Minggu mendatang.

Kelompok produsen minyak tersebut bulan ini menyelesaikan pencabutan salah satu lapisan pemangkasan produksi dan selanjutnya mulai berfokus pada pembahasan kuota produksi untuk 2027.

Dari perkembangan lain, Rusia melancarkan serangan besar menggunakan rudal dan drone terhadap infrastruktur energi di wilayah Odesa, Ukraina selatan. Operator sistem transmisi listrik Ukraina, Ukrenergo, mengatakan serangan tersebut terjadi pada Rabu dini hari.

Sementara itu, di AS, persediaan minyak mentah turun 4,5 juta barrel pada pekan lalu. Penurunan ini lebih besar dibandingkan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memprediksi penurunan persediaan sebesar 1,1 juta barrel. (hm25/Kompas.com)


Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN