Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Emas Antam Meroket, FOMO dan Percaloan Jadi Faktor Utama

Mistar.idJumat, 10 April 2026 pukul 21.21 WIB
harga_emas_antam_meroket_fomo_dan_percaloan_jadi_faktor_utama

Ilustrasi emas antam (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengakui fenomena fear of missing out (FOMO) dan praktik percaloan turut mendorong lonjakan harga emas hingga 150 persen dalam lima tahun terakhir. Kenaikan ini terlihat semakin signifikan, terutama dalam beberapa waktu terakhir.

Direktur Komersial Antam, Handi Sutanto, menuturkan, jika diamati dalam jangka waktu lebih sempit, harga emas dalam dua tahun terakhir juga meningkat sekitar 50 persen. "Kalau kita lihat lima tahun terakhir, harganya naik kurang lebih 150 persen. Awalnya tren ini muncul saat periode Covid, kemudian penguatan harga emas terus berlanjut," ujarnya dalam program News Hour CNN TV, Jumat (10/4/2026).

Handi menegaskan narasi soal harga emas Antam yang digoreng tidak sepenuhnya tepat. Menurutnya, kenaikan ini merupakan kombinasi dari daya tarik emas sebagai instrumen investasi dan perilaku masyarakat yang FOMO. "Masyarakat yang takut ketinggalan cenderung membeli emas secara agresif. Hal ini menimbulkan unsur spekulasi di pasar," katanya.

Meski demikian, Antam hanya mengendalikan harga di pasar primer, yaitu harga resmi yang diumumkan setiap hari melalui situs resmi perusahaan. Sementara harga di pasar sekunder diatur oleh Kementerian Perdagangan dan berada di luar kewenangan Antam.

Handi mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap selisih harga yang terlalu tinggi dibanding harga resmi Antam. "Kalau selisihnya 10, 20, atau 30 persen, sebaiknya tidak membeli. Itu indikasi praktik percaloan yang perlu diwaspadai," jelasnya.

Pergerakan harga emas Antam sejauh ini sangat sejalan dengan harga emas dunia, dengan tingkat korelasi mencapai sekitar 99,99 persen. Namun, Handi mengakui volatilitas tinggi bisa terjadi dalam jangka pendek, terutama saat momen tertentu seperti Lebaran.

"Emas sebaiknya dipandang sebagai investasi jangka menengah hingga panjang. Untuk sentimen jangka pendek, masyarakat perlu berhati-hati agar tidak terjebak spekulasi," pungkas Handi.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN