Harga Cabai Anjlok, Sejumlah Komoditas Pangan Berfluktuasi di Pangururan

Sejumlah pedagangdan pengunjung di Pasar Pangururan, Rabu (21/1/2026). (Foto: Pangihutan/Mistar)
Pangururan, MISTAR.ID
Harga sejumlah komoditas pangan di Pasar Percontohan Pangururan, Kabupaten Samosir, berfluktuasi sepanjang Januari 2026, dengan penurunan paling tajam terjadi pada cabai, sementara beberapa bahan pokok lainnya bergerak naik dan turun terlihat pada daging ayam broiler, jagung pipilan kering, dan minyak goreng Minyakita.
Hal ini berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan pada tanggal 7, 14, dan 21 Januari 2026. Sementara, cabai rawit hijau menjadi komoditas dengan penurunan harga paling signifikan. Pada 7 Januari 2026, harga cabai rawit hijau masih berada di angka Rp75.000 per kilogram.
Namun, pada 14 Januari harga anjlok menjadi Rp45.000 per kilogram dan bertahan di level yang sama hingga 21 Januari 2026. Penurunan serupa juga terjadi pada cabai merah keriting, dari Rp28.000 per kilogram pada 7 Januari menjadi Rp20.000 per kilogram pada 14 Januari dan tidak mengalami perubahan hingga akhir pemantauan.
Tekanan harga juga terjadi pada bawang merah lokal. Harga bawang merah lokal tercatat Rp40.000 per kilogram pada 7 Januari, kemudian turun menjadi Rp38.000 per kilogram pada 14 Januari, dan kembali melemah menjadi Rp35.000 per kilogram pada 21 Januari 2026. Sementara itu, bawang putih relatif stabil dan tetap diperdagangkan di harga Rp35.000 per kilogram sepanjang Januari.
Pergerakan harga naik dan turun terlihat pada komoditas daging ayam broiler. Pada 7 Januari, harga ayam broiler tercatat Rp44.000 per kilogram, lalu turun menjadi Rp43.000 per kilogram pada 14 Januari, sebelum kembali naik ke Rp44.000 per kilogram pada 21 Januari 2026. Kondisi ini mencerminkan fluktuasi pasokan dan permintaan di tingkat pasar.
Jagung pipilan kering juga tercatat masih berada di atas harga eceran tertinggi (HET). Pada 7 Januari 2026, harga jagung pipilan kering mencapai Rp8.200 per kilogram, kemudian turun menjadi Rp8.000 per kilogram pada 14 dan 21 Januari, meski tetap jauh melampaui HET yang ditetapkan sebesar Rp5.800 per kilogram.
Sementara itu, minyak goreng Minyakita sempat diperdagangkan di atas HET. Pada 7 Januari, harga Minyakita tercatat Rp16.000 per kilogram, lebih tinggi dari HET Rp15.700. Selanjutnya, pada 14 Januari harga turun dan menyesuaikan dengan HET Rp15.700 per kilogram, lalu stabil hingga 21 Januari 2026.
Di tengah fluktuasi tersebut, mayoritas bahan pokok lainnya terpantau stabil. Udang basah ukuran medium bertahan di harga Rp100.000 per kilogram. Komoditas seperti tempe, tahu mentah, telur ayam ras, telur ayam kampung, beras premium dan medium, gula pasir, garam beriodium, serta sebagian besar produk susu tidak mengalami perubahan harga selama periode pemantauan.
Selain itu, sejumlah komoditas tercatat tidak tersedia di Pasar Percontohan Pangururan sepanjang Januari 2026. Komoditas tersebut antara lain minyak goreng curah, kacang kedelai lokal, kacang kedelai impor, bawang merah impor, serta beberapa jenis susu bubuk. Harga komoditas ini tercatat Rp0 pada awal pemantauan dan tidak terdapat data transaksi lanjutan.
Menanggapi kondisi tersebut, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemkab Samosir, Ferdinand Sitanggang, mengatakan fluktuasi harga bahan pokok merupakan hal yang lazim terjadi, terutama pada komoditas hortikultura yang sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca dan pasokan dari daerah produsen.
“Untuk cabai dan bawang merah, penurunan harga yang cukup tajam pada Januari ini dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan dari sentra produksi, sementara permintaan masyarakat relatif stabil,” ujar Ferdinand, Rabu (21/1/2026).
Ia menjelaskan, khusus untuk komoditas yang masih berada di atas HET seperti jagung pipilan kering dan sempatnya Minyakita dijual di atas HET, pihaknya terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan distributor serta pedagang agar harga dapat segera menyesuaikan ketentuan yang berlaku.
“Kami secara rutin turun ke lapangan untuk memantau harga dan ketersediaan stok. Jika ditemukan harga di atas HET tanpa alasan yang jelas, kami akan melakukan pembinaan kepada pedagang,” katanya.
Ferdinand menambahkan, secara umum kondisi harga bahan pokok di Kabupaten Samosir masih terkendali. Pemerintah daerah, kata dia, akan terus melakukan pengawasan pasar dan memastikan distribusi berjalan lancar agar fluktuasi harga tidak terlalu membebani masyarakat, terutama menjelang periode-periode tertentu yang berpotensi meningkatkan permintaan. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Pemerintah Tunda Penerapan B50, Pengamat: Petani Sawit Merugi





















