Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Dolar Terus Menguat, Apa Dampaknya Jika Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS?

Mistar.idRabu, 21 Januari 2026 15.07
journalist-avatar-top
dolar_terus_menguat_apa_dampaknya_jika_rupiah_tembus_rp17000_per_dolar_as

Dolar AS. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan dan kini berada di ambang level Rp17.000 per dolar AS. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap perekonomian nasional dan kehidupan masyarakat.

Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (21/1/2026), dolar AS menguat hingga menyentuh level Rp16.963. Penguatan tersebut tercatat sebesar 7 poin atau naik sekitar 0,04 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economics Action Institution, Ronny P Sasmita, mengatakan dampak paling cepat dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga barang impor maupun produk yang bergantung pada bahan baku impor. Beberapa di antaranya meliputi pangan tertentu, obat-obatan, alat kesehatan, elektronik, hingga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.

“Jika rupiah menembus Rp17.000 per dolar AS, masyarakat tidak langsung merasakannya dari angka kurs, tetapi dari harga kebutuhan yang naik, daya beli yang melemah, serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi,” katanya.

Ia menambahkan, melemahnya rupiah dapat membuat biaya hidup meningkat tanpa diiringi kenaikan pendapatan. Akibatnya, pengeluaran rumah tangga membengkak meski sering kali tidak disadari.

“Masyarakat mungkin tidak memantau kurs setiap hari, tetapi akan sangat merasakan ketika harga gula, daging, ongkos transportasi, hingga biaya listrik menjadi lebih mahal,” ucapnya.

Dari sisi pelaku usaha, pelemahan rupiah juga berpotensi menaikkan biaya produksi, terutama bagi industri yang masih mengandalkan impor bahan baku dan barang modal. Dalam kondisi tersebut, perusahaan menghadapi pilihan sulit, mulai dari menaikkan harga jual, menekan upah pekerja, hingga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Jika kurs Rp17.000 bertahan cukup lama, risiko PHK dan melambatnya penciptaan lapangan kerja akan semakin besar,” katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai pelemahan rupiah juga akan memicu tekanan inflasi, khususnya dari sisi inflasi impor (imported inflation).

“Ketika rupiah tembus di atas Rp 17.000 per dolar AS, biaya impor meningkat. Harga bahan pangan impor naik, inflasi terdorong, dan daya beli masyarakat—terutama kelas menengah ke bawah—akan tergerus,” ucap Bhima.

Ia menambahkan, pelemahan rupiah juga dapat berdampak pada kenaikan cicilan kendaraan dan kredit pemilikan rumah (KPR), karena komponen impor dalam sektor otomotif dan properti cukup besar.

Selain itu, beban utang pemerintah, khususnya yang berasal dari luar negeri, ikut meningkat. “Utang luar negeri pemerintah menjadi lebih mahal. Beban bunga dan cicilan dapat memperlebar defisit APBN,” tuturnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN