Harga Beras di Medan Naik, Ekonom UISU Ungkap Faktor Pemicu hingga El Niño

Pekerja saat melakukan bongkar muat karung beras medium di salah satu grosir pasar tradisional Kota Medan. (foto:amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID (22/6/2026) - Tren pergerakan harga pangan di Sumatera Utara kembali bergejolak. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), komoditas beras di Kota Medan kompak merangkak naik dalam sepekan terakhir.
Kenaikan ini bertepatan dengan momentum pasca-penyesuaian harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang naik sebesar Rp3.950 per liter.
Pantauan di pasar tradisional menunjukkan harga beras medium tipe I rata-rata naik dari Rp15.050 menjadi Rp15.250 per kg. Lonjakan ini dipicu oleh pergerakan harga di Pasar Brayan dan Pasar Petisah yang naik Rp500 per kg.
Sementara itu, beras medium tipe II juga terkerek naik dari rata-rata Rp14.550 menjadi Rp14.850 per kg. Secara rinci, Pasar Brayan menyumbang kenaikan Rp500 per kg, sedangkan di Pasar Petisah naik hingga Rp1.000 per kg.
Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai bahwa kenaikan harga beras ini seolah-olah terjadi akibat imbas langsung dari mahalnya harga Pertamax yang dapat mengerek biaya operasional logistik perusahaan. Namun, ia melihat ada korelasi lain yang lebih mendasar.
“Dalam sepekan pasca-kenaikan harga Pertamax, saya belum melihat adanya dampak struktural besar yang memicu kenaikan harga pangan secara instan. Kenaikan harga beras di Sumut saat ini lebih disebabkan oleh siklus musim panen raya yang telah berakhir di berbagai wilayah sentra produksi lokal,” kata Gunawan, Senin (22/6/2026).
Kendati demikian, Gunawan mewanti-wanti pemerintah daerah dan Satgas Pangan untuk segera bersiap. Pasalnya, ada potensi besar harga beras akan bertahan mahal dan sulit turun hingga penghujung tahun 2026 akibat akumulasi tiga faktor krusial.
Fenomena iklim ekstrem El Niño berpeluang besar kembali menekan produktivitas lahan sawah secara nasional dan memicu keterlambatan musim tanam berikutnya.
Terjadi tren kenaikan harga obat-obatan pertanian seperti herbisida, pestisida, hingga potensi kenaikan upah buruh tani. Meskipun pupuk untuk petani padi mendapatkan subsidi, komponen produksi non-subsidi lainnya tetap berisiko naik, termasuk biaya distribusinya yang ikut terdampak harga Pertamax.
Nilai tukar rupiah yang terus berada di bawah tekanan dolar Amerika Serikat menjadi beban yang mulai dikeluhkan sektor pertanian.
“Meskipun pemerintah secara resmi mengumumkan bahwa stok Indonesia masih surplus beras, pelemahan rupiah tetap berpeluang besar mendorong kenaikan biaya produksi alat dan bahan pertanian di tingkat hulu,” ucap Gunawan.
Kondisi di dalam negeri diperumit oleh ketidakpastian tensi geopolitik global di Selat Hormuz serta ancaman inflasi pangan dunia. Kombinasi faktor eksternal ini berpotensi membuat harga beras di pasar internasional merangkak naik secara linear.
Oleh sebab itu, Gunawan menegaskan bahwa pergerakan harga beras domestik ke depan akan sangat bergantung pada kekuatan cadangan beras yang dikelola pemerintah melalui Perum Bulog.
“Tren harga beras ke depan akan sangat ditentukan oleh manajemen pasokan pemerintah melalui operasi pasar dan program SPHP. Sebab, jika dalam kondisi mendesak kita harus bergantung pada skema impor beras, pembentukan harga belinya dipastikan akan jauh lebih mahal akibat depresiasi rupiah saat ini,” ujar Gunawan. (hm27)

























