Hama Tikus Serang Sawah Toba, Distan Ungkap Penyebab dan Dampak Panen Turun

Masa panen padi di Kabupaten Toba. (Foto:Nimrot/Mistar)
Toba, MISTAR.ID (22/6/2026) - Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Toba menyebut dampak serangan hama tikus yang terjadi di lahan pertanian padi di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Porsea, Uluan, dan Siantar Narumonda, disebabkan oleh hilangnya budaya gropyokan di kalangan petani.
Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Toba, Pimpinan Siambaton, menyampaikan bahwa penanganan hama tikus sebaiknya dilakukan sejak awal sebelum masa penanaman padi agar terhindar dari serangan hama, terutama pada fase pembuahan.
“Penanggulangan sebaiknya dilakukan sebelum masa tanam seperti melakukan gropyokan (gotong royong) untuk membasmi hama tikus. Selain itu dapat dilakukan dengan cara pengumpanan ataupun pengasapan pada sarang tikus,” ujar Pimpinan, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, petani padi di Kabupaten Toba juga dapat berkoordinasi dengan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Distan Toba dengan menghubungi Depon Sianipar melalui nomor kontak 0822-9419-2349 atau kepada PPL di kecamatan terkait.
“Demikian juga apabila membutuhkan racun tikus untuk pengendalian hama, dinas dapat memberikannya, termasuk dalam pembinaan dan gerakan pengendalian,” tuturnya.
Senada disampaikan Kepala Dinas Pertanian Toba, Lena Pardede, yang mengatakan bahwa selain gropyokan, petani juga perlu melakukan pembersihan lahan sebelum mengolah sawah untuk ditanami padi.
“Budaya tersebut saat ini sudah tidak dilakukan petani lagi. Jika hal tersebut dilakukan, dapat mengurangi serangan hama tikus,” ujarnya.
Sebelumnya, hasil panen raya 2026 di Desa Siantar Dangsina, Kecamatan Siantar Narumonda, Kabupaten Toba, menurun hingga 50 persen.
Sejumlah warga menyebutkan serangan hama menjadi penyebabnya. Warga juga menduga serangan hama dipicu percobaan program pemerintah dengan menanam padi dua kali dalam setahun di wilayah tersebut.
“Panen saya berkurang hingga 50 persen. Biasanya dari satu petak sawah, saya bisa panen delapan goni. Kali ini hanya empat goni (karung ukuran 90–100 kilogram),” ujar seorang petani, Umri Marpaung, Senin (22/6/2026).
Umri menambahkan, selain diduga karena program tanam dua kali dalam setahun, populasi hama tikus semakin meningkat karena petani mengganti bibit padi dari lokal ke hibrida.
Dijelaskannya, padi lokal memiliki masa panen sekitar enam bulan, sedangkan padi hibrida hanya sekitar tiga bulan sudah dapat dipanen.
“Sebelum dilakukan program tanam dua kali, tidak pernah terjadi serangan tikus separah ini. Paling dari delapan goni berkurang satu goni. Padahal, selama ini di Kecamatan Porsea dan Siantar Narumonda hanya menanam padi satu kali dalam setahun selama ratusan tahun,” ujarnya.
Warga lainnya, R. Marpaung, berharap pemerintah tidak terlalu memaksakan program tanam dua kali kepada petani di Toba jika belum memiliki solusi saat serangan hama tikus terjadi.
“Tanam sekali dalam setahun menjadi dua kali tidak semudah membalikkan telapak tangan. Buktinya, begitu dilaksanakan percobaan tanam dua kali, serangan tikus yang begitu masif justru terjadi. Masalah ini bukan hanya terjadi di desa kami, tetapi juga di Kecamatan Porsea,” tuturnya. (hm27)

























