Disperindag ESDM Sumut: Kelangkaan BBM Jadi Pemicu Kenaikan Harga Pangan, Bukan Semata Dampak MBG

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumatera Utara, Dedi Jaminsyah Putra Harahap. (Foto: Iqbal/MISTAR)
Medan, MISTAR.ID – Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan di Sumatera Utara (Sumut) tidak hanya dipengaruhi kembali beroperasinya Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi turut dipengaruhi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah daerah. Kondisi ini salah satu faktor penyebab terganggunya distribusi bahan pangan.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumut, Dedi Jaminsyah Putra Harahap, mengatakan harga pangan di Sumut secara umum masih relatif stabil. Namun, beberapa komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang mengalami kenaikan akibat faktor pasokan dan distribusi.
"Kondisi harga pangan di Sumut saat ini sebenarnya masih relatif stabil. Memang komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang mengalami kenaikan harga, tetapi masih dipengaruhi dinamika pasar, terutama faktor pasokan dan distribusi," ujarnya, Selasa (14/7/2026).
Dedi menegaskan pihaknya belum dapat menyimpulkan bahwa kenaikan harga pangan disebabkan oleh kembali berjalannya Program MBG setelah libur sekolah.
"Saya tidak bisa membenarkan informasi bahwa kenaikan harga terjadi karena MBG. Kami masih perlu melakukan konfirmasi lebih lanjut," katanya.
Sebaliknya, menurut Dedi, kelangkaan BBM yang masih terjadi di sejumlah wilayah Sumut turut menghambat distribusi barang sehingga memengaruhi pasokan ke pasar.
"Yang jelas, kondisi ketersediaan BBM juga berpengaruh. Distribusi terganggu karena kendaraan pengangkut ikut terdampak. Kita bisa melihat antrean panjang di sejumlah SPBU di Medan hingga saat ini," ujarnya.
Untuk mengantisipasi gangguan pasokan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral Sumut terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota guna memastikan distribusi bahan pokok tetap berjalan lancar.
"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk memastikan pasokan aman dan distribusi tetap lancar. Perkembangannya terus kami pantau setiap hari," tuturnya.
Dedi juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying, karena pembelian secara berlebihan justru dapat memperburuk kondisi ketersediaan barang di pasaran.
Sebelumnya, kenaikan harga telur ayam dan daging ayam di sejumlah pasar tradisional di Kota Medan dikaitkan dengan kembali beroperasinya Program MBG pada hari pertama masuk sekolah.
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, juga menyoroti kenaikan harga telur ayam tersebut. Menurutnya, tingginya permintaan untuk kebutuhan Program MBG berpotensi memengaruhi pasokan di pasar. Ia menyarankan agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bekerja sama langsung dengan pemasok telur sehingga tidak mengganggu distribusi bagi masyarakat umum.
PREVIOUS ARTICLE
DPRD Sumut Minta Pedagang Patuhi HET, Kenaikan Harga Pangan Dinilai Dipicu Permintaan MBG























