PDIP Sumut: Ada Aktor Politik di Balik Fenomena Rivalitas Kejaksaan dan Polri

Wakil Sekretaris DPD PDIP Sumut, Sutrisno Pangaribuan (kanan), bersama Ketua (tengah) dan Sekretaris (kiri) DPD PDIP Sumut. (Foto: Ari/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara (Sumut), Sutrisno Pangaribuan, menilai fenomena rivalitas antara Kejaksaan dan Polri dilandasi adanya sosok aktor intelektual di balik kekuatan politik dari kekuasaan Presiden Prabowo Subianto.
Hal itu dikatakan politisi PDIP Sumut tersebut menyikapi aksi saling mengungkap kasus korupsi di tubuh Kejaksaan maupun Polri yang saat ini menjadi perhatian publik dan menjadi pembicaraan di tengah masyarakat.
“Kita mendukung apa yang disampaikan oleh calon wakil presiden Ganjar, yakni Prof. Mahfud MD, bahwa setan sama setan sedang berperang,” ujarnya kepada Mistar saat dikonfirmasi, Senin (13/7/2026).
Ia menilai fenomena tersebut bukan lagi bentuk rivalitas, melainkan adanya sosok ataupun dalang di balik layar yang memiliki peran strategis mengerahkan kekuatan ataupun alat negara yang berujung pada terungkapnya kasus praktik korupsi di tubuh institusi.
“Kalau kita lihat, Kejaksaan afiliasinya itu TNI, karena yang menjaga sekarang adalah TNI. Itulah rivalitas yang menggunakan alat negara. Inilah yang harus diusut untuk diketahui siapa aktor intelektual dari kekuatan politik itu.
Menurutnya, rivalitas dari kedua institusi tersebut membuktikan telah terjadi praktik korupsi yang begitu terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) selama 10 tahun periode Jokowi dan beberapa tahun periode Prabowo.
“Sektor-sektor itu muncul saat pertama kali Kejaksaan menjadi komandan dari Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH). Kalau tidak salah saya, Jampidsus ini komandannya. Jadi memang perampasan kebun-kebun pengusaha dan rakyat itu memang sebagai pengumpulan logistik,” ucapnya.
Lebih jauh, ia mendesak aktor politik di belakang layar di samping kekuasaan Presiden Prabowo harus segera diungkap. Pasalnya, ia menekankan bahwa rivalitas tersebut bukan di tubuh Kejaksaan Agung dan Polri, tetapi sosok tokoh politik yang melaksanakan hal tersebut di balik layar.
“Jadi sebenarnya bukan rivalitas institusi ini, karena ini sudah lama terjadi. Tetapi yang kita lihat adalah rivalitas dua kekuatan politik di samping Prabowo, satu menggunakan Polri, satu lagi Kejaksaan,” tegasnya. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Medan Utara Dilanda Banjir Rob 2,6 Meter hingga 18 Juli 2026





















