Saturday, June 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Beralih dari Sawah ke Buah Naga, Warga Pegajahan Raih Pendapatan hingga Rp15 Juta per Bulan

Mistar.idSabtu, 20 Juni 2026 19.15
journalist-avatar-top
HS
beralih_dari_sawah_ke_buah_naga_warga_pegajahan_raih_pendapatan_hingga_rp15_juta_per_bulan

Tuti menunjukkan tanaman buah naga di lahan seluas tujuh rante miliknya di Desa Sukasari, Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Serdang Bedagai.(Foto: sembiring/ mistar)

news_banner

Serdang Bedagai, MISTAR.ID

Budidaya buah naga menjadi alternatif usaha pertanian yang dinilai lebih menguntungkan dibandingkan menanam padi bagi sebagian petani.

Hal itu dirasakan Tuti (56), warga Desa Sukasari, Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Serdang Bedagai, yang telah menekuni usaha budidaya buah naga selama 13 tahun terakhir.

Tuti mengubah lahan persawahan miliknya seluas sekitar tujuh rante menjadi kebun buah naga. Keputusan tersebut kini memberikan hasil yang cukup menjanjikan dengan pendapatan rata-rata mencapai Rp15 juta per bulan.

Menurut Tuti, awalnya lahan yang dimilikinya digunakan untuk bercocok tanam padi. Namun, kondisi lahan yang relatif lebih tinggi dibandingkan sawah di sekitarnya membuat produktivitasnya kurang optimal.

“Awalnya saya disarankan oleh keponakan untuk mencoba menanam buah naga. Karena lahan sawah kami lebih tinggi dari lahan tetangga, akhirnya kami memutuskan beralih ke buah naga,” ujar Tuti saat ditemui di kebunnya, Sabtu (20/6/2026).

Ia menjelaskan, pada awal pembangunan kebun buah naga, keluarga mengeluarkan modal sekitar Rp15 juta. Biaya tersebut digunakan untuk pembangunan tiang beton penyangga tanaman serta pemasangan jaringan penerangan.

Menurutnya, lampu menjadi salah satu komponen penting dalam budidaya buah naga karena membantu merangsang pertumbuhan tunas dan bakal buah.

“Lampu ini perlu karena tanaman buah naga harus mendapat tambahan cahaya pada malam hari. Fungsinya untuk merangsang pertumbuhan tunas calon buah,” katanya.

Tuti mengaku pendapatan dari kebun buah naga jauh lebih besar dibandingkan saat masih menanam padi di lahan yang sama.

“Kalau dibandingkan dengan menanam padi di lahan tujuh rante ini, hasil dari buah naga memang lebih menguntungkan,” ujarnya.

Selain memberikan hasil ekonomi yang lebih baik, perawatan tanaman buah naga juga dinilai tidak terlalu rumit. Untuk pemupukan, ia memanfaatkan pupuk kandang berupa kotoran kambing.

“Perawatannya tidak sulit. Yang cukup besar hanya biaya pemasangan listrik di awal. Setelah itu pemupukan cukup menggunakan kotoran kambing,” jelasnya.

Ia menambahkan, tanaman buah naga dapat bertahan hingga sekitar 15 tahun sebelum perlu dilakukan peremajaan.

Hasil panen buah naga dari kebunnya selama ini dipasarkan kepada para agen dan pedagang yang datang langsung dari berbagai daerah, termasuk Lubuk Pakam dan sejumlah wilayah lainnya di Sumatera Utara.

Keberhasilan Tuti mengembangkan kebun buah naga menjadi salah satu contoh diversifikasi usaha pertanian yang mampu meningkatkan nilai ekonomi lahan sekaligus memberikan alternatif sumber pendapatan bagi petani di daerah tersebut.(*)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN