Saturday, June 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Kisah Nana, Sukses Manfaatkan Ubi Rambat Jadi Jajanan Ceker Ayam yang Renyah di Sergai

Mistar.idSabtu, 20 Juni 2026 18.12
journalist-avatar-top
HS
kisah_nana_sukses_manfaatkan_ubi_rambat_jadi_jajanan_ceker_ayam_yang_renyah_di_sergai

Proses produksi makanan ringan ceker ayam berbahan dasar ubi rambat di Desa Lidah Tanah, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai.(Foto: sembiring/ mistar)

news_banner

Serdang Bedagai, MISTAR.ID

Usaha pembuatan makanan ringan tradisional berupa ceker ayam di Desa Lidah Tanah, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, terus bertahan di tengah persaingan usaha kuliner.

Industri rumahan yang telah dijalankan selama belasan tahun itu mampu menghabiskan sekitar 500 kilogram ubi rambat setiap hari sebagai bahan baku produksi.

Usaha tersebut dikelola oleh Nana, warga setempat yang memproduksi ceker ayam dari bahan dasar ubi rambat. Lokasi produksinya berada tidak jauh dari Stasiun Kereta Api Lidah Tanah.

Menurut Nana, usaha yang dirintisnya telah berjalan selama belasan tahun dan hingga kini masih memiliki pasar yang cukup luas. Produk ceker ayam yang dibuatnya dijual dengan harga Rp5.000 per bungkus berisi 12 potong ukuran kecil.

“Sudah belasan tahun usaha ini berjalan. Pembelinya ada yang datang langsung ke lokasi dan ada juga yang dikirim melalui jasa pengiriman,” ujar Nana, Sabtu (20/6/2026).

Ia menjelaskan, hasil produksinya tidak hanya dipasarkan di kawasan pusat jajanan dodol Pasar Bengkel, Kecamatan Perbaungan, tetapi juga dikirim ke sejumlah daerah lain seperti Lubuk Pakam, Kabupaten Langkat, hingga Rantauprapat, Kabupaten Labuhan Batu.

Selain menjadi sumber penghasilan keluarga, usaha tersebut juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Nana mempekerjakan sejumlah perempuan dari Desa Lidah Tanah untuk membantu proses produksi.

“Jumlah produksi tergantung kemampuan pekerja. Namun rata-rata sekitar 500 kilogram ubi rambat habis setiap hari untuk bahan baku pembuatan ceker ayam,” katanya.

Nana mengungkapkan dirinya memilih menggunakan ubi rambat dibandingkan ubi kayu karena dinilai menghasilkan tekstur yang lebih baik.

“Kalau menggunakan ubi kayu hasilnya lebih keras. Sementara ubi rambat menghasilkan ceker ayam yang lebih lembut dan renyah,” ujarnya.

Keberadaan industri rumahan tersebut menjadi salah satu contoh usaha mikro yang mampu bertahan dan berkembang dengan memanfaatkan bahan baku lokal serta melibatkan tenaga kerja dari lingkungan sekitar.

Selain menopang ekonomi keluarga, usaha itu juga turut mendukung perputaran ekonomi masyarakat di Desa Lidah Tanah.(*)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN