Thursday, July 9, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Sulap Limbah Kulit Buah Jadi Batu Bata, MAN 1 Medan Raih Emas dalam Ajang JDIE INNOPA WIIPA 2026 di Jepang

Mistar.idKamis, 9 Juli 2026 pukul 18.50 WIB
sulap_limbah_kulit_buah_jadi_batu_bata_man_1_medan_raih_emas_dalam_ajang_jdie_innopa_wiipa_2026_di_jepang

Siswa MAN 1 Medan saat mengikuti ajang inovasi di Jepang. (foto: MAN 1 Medan/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Tim Karya Ilmiah Remaja (KIR) MAN 1 Medan berhasil memenangkan medali emas dalam ajang Japan Design, Idea and Invention Expo (JDIE) INNOPA WIIPA 2026 yang berlangsung pada 1-7 Juli 2026 di Kansai Airport Conference Hall, Izumisano, Osaka, Jepang.

Inovasi yang dibawa tujuh siswa MAN 1 Medan tersebut adalah pemanfaatan limbah kulit buah menjadi bahan bangunan ramah lingkungan, berupa batu bata dan genteng.

Salah satu anggota tim, Fauzul Huda, 16 tahun, menceritakan ide ini lahir dari keprihatinan mereka melihat banyaknya sampah kulit buah yang menumpuk di sekolah dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Bersama guru pembimbing, mereka memanfaatkan serat kuat dari campuran kulit buah seperti pisang, jeruk dan semangka untuk diolah menjadi material bangunan.

"Kami mengumpulkan limbah kulit buah dari tiap kelas dengan izin guru. Kulit buah itu dikeringkan, digiling sampai menjadi bubuk, lalu dicampur dengan tanah liat dan air," kata Fauzul saat ditemui di MAN 1 Medan, Kamis (9/7/2026).

Proses pembuatannya, kata Fauzul, memakan waktu sekitar dua bulan dan melalui beberapa kali kegagalan komposisi. Sampai akhirnya mereka menemukan formula yang pas, dengan perbandingan yang tepat pula.

Batako tersebut melalui proses pengeringan dan pembakaran manual di tungku selama 3 hingga 4 hari dengan total waktu produksi sekitar 14 hari. Ia menjelaskan untuk membuat satu buah batu bata, membutuhkan dua kilogram bubuk hasil pengeringan kulit buah.

“Kami sudah mengujinya, tapi kami ujinya dengan cara kami pijak, dan ini berhasil. Maksudnya dia nggak hancur, kuat gitu. Kami hitung-hitung sekitar 70 atau 80 kilo dia bisa bertahan tanpa pecah,” ujarnya.

Fauzul mengaku sempat tak percaya bahwa timnya berhasil membawa pulang medali emas, melihat tim lain membawa inovasi yang menurut mereka jauh lebih bagus. “Sempat gak nyangka. Karena menurut saya, kami tuh biasa-biasa saja dan yang sebelah jauh lebih bagus. Tapi saat pengumuman, kami mendapat gold medali, yang sebelah dapat silver. Kami gak expect, senang banget,” ucapnya.

Pelatih KIR MAN 1 Medan, Muhammad Doni Anggara, menjelaskan ajang yang diselenggarakan oleh WIIPA dan INNOPA ini diikuti ratusan tim dari berbagai negara, seperti China, Thailand, Arab Saudi, Filipina, hingga Inggris. MAN 1 Medan sendiri bertanding di kategori sains yang bersaing dengan sekitar 30 tim lainnya dari seluruh dunia.

Selama kurang lebih dua bulan, tim mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk masuk ke ajang tersebut, mulai dari pengumpulan bahan, hingga melatih kemampuan presentasi dan bahasa Inggris siswa.

"Support dari kepala madrasah untuk event internasional itu luar biasa. Jadi setiap kali ada event internasional kami selalu ikuti. Tim pelatih akan mendiskusikan ide mana yang cocok. Melihat dari inovasi yang ada hari ini, khususnya MBG ya, jadi limbahnya juga bisa termanfaatkan,” katanya sembari berharap capaian ini juga mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah maupun provinsi.

Tujuh siswa yang berangkat ke Jepang dan mengikuti ajang JDIR 2026 yaitu Fauzul Huda, Tiara Qalbi Aswani, Rafa Ruzain Ahmad, Sandria Shelba Yafizham Harahap, Ariq Zaidan Dhiaufa Siregar, Azka Azzahra Putri Dalimunthe dan Zahraa Putri Syahbana. Mereka berangkat didampingi tiga pelatih dan pembina yaitu Muhammad Doni Anggara, Ulfa Mashitah, dan Ahmad Zaki Mubarak.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN