Thursday, July 9, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Siklon Tropis Bavi Menguat, BMKG Ingatkan Gelombang Tinggi dan Angin Kencang di Indonesia Timur

Mistar.idKamis, 9 Juli 2026 pukul 16.34 WIB
siklon_tropis_bavi_menguat_bmkg_ingatkan_gelombang_tinggi_dan_angin_kencang_di_indonesia_timur

Ilsutrasi, Siklon Tropis Bavi Menguat, BMKG Ingatkan Gelombang Tinggi dan Angin Kencang di Indonesia Timur. (foto:tangkapan layar laman resmi BMKG/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (9/7/2027) – Siklon Tropis Bavi yang berkembang di kawasan Pasifik Barat terus menunjukkan penguatan hingga menjadi topan sangat kuat. Meski pusat badai berada jauh dari Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi dampak tidak langsung berupa peningkatan tinggi gelombang dan kecepatan angin di sejumlah wilayah Indonesia timur.

Sistem cuaca tersebut berawal dari Bibit Siklon Tropis 95W yang mencapai intensitas siklon tropis pada 2 Juli 2026 pukul 07.00 WIB. Dalam beberapa hari berikutnya, Bavi terus berkembang hingga memasuki wilayah pemantauan Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta pada 7 Juli 2026 pukul 07.00 WIB.

Berdasarkan hasil pemantauan meteorologi, Bavi kini telah berkembang menjadi topan sangat kuat yang ditandai dengan tekanan udara rendah serta peningkatan kecepatan angin secara signifikan. Kondisi itu menjadikan Bavi sebagai salah satu sistem cuaca paling dominan di kawasan Pasifik Barat pada awal Juli 2026.

Dampak Tidak Langsung Tetap Perlu Diwaspadai

BMKG menegaskan bahwa pengaruh siklon tropis tidak hanya dirasakan di sekitar pusat pusaran. Sistem atmosfer berskala besar seperti Bavi mampu memengaruhi pola angin dan kondisi laut hingga ratusan bahkan ribuan kilometer dari lokasi badai.

Perubahan pola angin akibat aktivitas Bavi diperkirakan meningkatkan tinggi gelombang di sejumlah perairan Indonesia timur. Situasi tersebut juga berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran, perikanan, dan transportasi laut karena kondisi cuaca yang lebih ekstrem dibandingkan kondisi normal.

Fenomena itu terjadi ketika siklon tropis menarik massa udara dari wilayah sekitarnya sehingga mengubah pola cuaca regional. Dampaknya paling terasa di sektor kelautan melalui peningkatan gelombang dan angin permukaan.

BMKG mengingatkan bahwa suatu wilayah tidak harus dilalui langsung oleh siklon tropis untuk merasakan dampaknya. Dalam banyak kejadian, gangguan justru muncul akibat perubahan atmosfer yang dipicu oleh sistem cuaca tersebut.

Keterangan gambar: Pergerakan Siklon Tropis Bavi. (foto:tangkapan layar TCWC Jakarta dari laman resmi BMKG/mistar)

Perairan dan Wilayah Daratan yang Berpotensi Terdampak

Melalui TCWC Jakarta, BMKG mengidentifikasi sejumlah kawasan yang berpotensi mengalami dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Bavi.

Wilayah perairan yang berpotensi mengalami gelombang tinggi meliputi Perairan Kepulauan Sangihe, Perairan Kepulauan Talaud, Samudera Pasifik utara Papua Barat, Samudera Pasifik utara Halmahera bagian utara dan selatan, Samudera Pasifik utara Biak, serta Samudera Pasifik utara Jayapura.

Sementara itu, peningkatan kecepatan angin diprakirakan terjadi di Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya. Demikian dikutip dari laman resmi BMKG, Kamis (9/7/2026).

Masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir maupun sektor kelautan diminta terus memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG sebagai langkah antisipasi terhadap perubahan kondisi yang dapat berlangsung dalam waktu singkat.

Indonesia Jarang Dilintasi Siklon Tropis

Secara geografis, Indonesia berada di sekitar garis khatulistiwa. Posisi tersebut membuat pembentukan siklon tropis relatif sulit terjadi tepat di atas wilayah Indonesia.

Pembentukan siklon tropis memerlukan gaya Coriolis yang cukup kuat untuk membentuk pusaran atmosfer. Di kawasan ekuator, gaya tersebut sangat lemah sehingga sebagian besar siklon berkembang di wilayah yang lebih jauh ke utara atau selatan.

Kondisi itu menyebabkan Indonesia lebih sering merasakan dampak tidak langsung dibandingkan menjadi lokasi lintasan utama siklon tropis.

Meski demikian, risiko yang ditimbulkan tetap perlu diperhatikan. Gelombang tinggi, hujan lebat, dan angin kencang yang dipicu oleh siklon di luar wilayah Indonesia dapat mengganggu berbagai aktivitas masyarakat, terutama di kawasan pesisir.

Fokus Pemantauan BMKG

Dalam kondisi seperti ini, BMKG melalui TCWC Jakarta melakukan pemantauan selama 24 jam terhadap perkembangan sistem cuaca tropis di wilayah tanggung jawab Indonesia.

Pemantauan dilakukan dengan memanfaatkan satelit meteorologi, radar cuaca, model numerik atmosfer, serta jaringan stasiun pengamatan otomatis dan manual yang tersebar di berbagai daerah.

Data tersebut menjadi dasar penyusunan peringatan dini yang disampaikan kepada pemerintah daerah, pelaku transportasi laut, nelayan, dan masyarakat agar dapat mengantisipasi potensi dampak cuaca ekstrem selama Siklon Tropis Bavi masih aktif di kawasan Pasifik Barat.

(bmkg/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN