Penjelasan Ilmiah Mengapa Kita Menguap Saat Ngantuk

Foto: Ilustrasi Menguap. (Dok. Freepik)
Jakarta, MISTAR.ID
Menguap sering dianggap sebagai tanda mengantuk, lelah, atau bosan. Banyak orang juga percaya saat tubuh menguap disebabkan kekurangan oksigen. Namun, penjelasan ilmiahnya ternyata tidak sesederhana itu.
Secara ilmiah, menguap berkaitan dengan perubahan zat kimia di dalam otak yang memengaruhi fungsi tubuh, termasuk pengaturan suhu dan tingkat kewaspadaan.
Mengutip BBC Science Focus, Selasa (27/4/2026), salah satu teori lama menyebutkan bahwa menguap terjadi karena tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen. Tarikan napas panjang saat menguap dianggap membantu meningkatkan kadar oksigen sekaligus menurunkan karbon dioksida, terutama ketika seseorang merasa lelah atau berada di ruangan dengan ventilasi buruk.
Meski demikian, para peneliti menilai menguap bukanlah cara yang paling efektif untuk menambah oksigen dalam tubuh.
Teori lain menyebutkan menguap berhubungan dengan pengendalian suhu tubuh, khususnya suhu otak. Otak membutuhkan suhu yang stabil agar dapat bekerja optimal, sehingga tubuh memiliki mekanisme alami untuk menjaganya.
Ada juga teori yang mengaitkan menguap dengan proses peregangan otot, terutama pada rahang dan area wajah.
Salah satu penelitian penting dilakukan pada 2007 oleh profesor psikologi Andrew Gallup. Ia menemukan bahwa menguap kemungkinan besar berfungsi untuk membantu mengatur suhu tubuh dan otak.
Saat seseorang menguap, mulut terbuka lebar dan rahang meregang hampir maksimal. Gerakan ini meningkatkan aliran darah di area kepala dan wajah. Pada saat yang sama, udara yang masuk dengan cepat membantu mendinginkan darah tersebut.
Darah yang telah didinginkan kemudian bersirkulasi dan membantu menurunkan suhu otak. Proses ini diduga menjadi mekanisme alami tubuh untuk menjaga kestabilan suhu otak, seperti dijelaskan Britannica.
Dalam penelitiannya, Gallup juga menemukan suhu lingkungan sangat memengaruhi frekuensi seseorang menguap. Saat tubuh berada dalam kondisi hangat, seseorang cenderung lebih sering menguap, bahkan hanya setelah melihat orang lain menguap.
Sebaliknya, ketika berada di lingkungan yang lebih sejuk atau setelah menggunakan kompres dingin di dahi, frekuensi menguap menurun secara signifikan.
Temuan ini memperkuat dugaan menguap bukan sekadar tanda kantuk, melainkan bagian dari cara tubuh menjaga suhu otak tetap stabil, terutama setelah aktivitas mental yang melelahkan. (hm20)
BERITA TERPOPULER
















