Berwisata ke Jepang Lebih Mahal Tiga Kali Lipat di 2026

Gunung Fuji yang ada di Jepang. (Foto: Getty Images)
Tokyo, MISTAR.ID
Pemerintah Jepang mengumumkan penyesuaian tarif visa dan pajak pariwisata bagi wisatawan yang berkunjung ke negara tersebut. Kebijakan ini diperkirakan mampu menambah pemasukan negara hingga sekitar 350 miliar yen pada 2026.
Mengutip laporan Nikkei Asia, Senin (12/1/2026), kenaikan tarif ini dilakukan sebagai respons atas masalah pariwisata berlebihan (overtourism), sekaligus untuk memperkuat layanan konsuler, membenahi sistem keimigrasian, serta mendukung berbagai kebutuhan publik lainnya.
Dalam kebijakan baru tersebut, biaya visa turis dinaikkan cukup signifikan, dari sebelumnya 3.000 yen menjadi 15.000 yen atau sekitar lima kali lipat. Sementara itu, tarif perpanjangan maupun perubahan status visa turut melonjak, dari 6.000 yen menjadi sekitar 40.000 yen, menyesuaikan durasi izin tinggal.
Selain visa, Jepang juga menaikkan pajak turis internasional yang kini dimasukkan langsung ke dalam harga tiket pesawat. Pajak yang sebelumnya sebesar 1.000 yen dinaikkan menjadi 3.000 yen dan mulai berlaku pada Juli mendatang.
Kebijakan pajak ini berlaku bagi seluruh penumpang yang meninggalkan Jepang, termasuk warga negaranya sendiri. Namun, untuk meredam dampaknya terhadap masyarakat lokal, pemerintah memberikan keringanan berupa penurunan biaya paspor. Tarif paspor 10 tahun, misalnya, dipangkas dari 16.000 yen menjadi 9.000 yen.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Jepang tengah berupaya memaksimalkan kontribusi sektor pariwisata di tengah proyeksi penurunan pendapatan negara hingga 2,2 triliun yen pada 2026. Penurunan ini dipicu oleh kebijakan pendidikan gratis serta berkurangnya penerimaan dari pajak bahan bakar.
Sebagai kompensasi, Negeri Sakura menargetkan tambahan penerimaan sekitar 1,2 triliun yen melalui peningkatan pajak bagi kelompok berpenghasilan tinggi dan pengurangan insentif pajak di sektor swasta.
Lonjakan wisatawan asing menjadi latar belakang utama kebijakan ini. Sepanjang 2024, Jepang mencatat rekor kunjungan 36,87 juta turis mancanegara, didorong oleh melemahnya nilai tukar yen yang membuat biaya perjalanan relatif lebih murah.
Dampak overtourism paling terasa di jalur wisata utama atau Golden Route yang mencakup Tokyo, Kyoto, dan Osaka. Di Kyoto, kawasan Gion menjadi perhatian khusus setelah sejumlah gang privat ditutup untuk mencegah wisatawan memburu dan memotret geisha secara agresif, yang dinilai mengganggu warga setempat. Kepadatan bus kota juga kerap menyulitkan mobilitas masyarakat lokal.
Tak hanya di perkotaan, destinasi alam seperti Gunung Fuji turut terdampak. Antrean panjang pendaki saat musim ramai menyebabkan kepadatan di jalur pendakian, sehingga pemerintah memberlakukan pembatasan kuota harian.
Di Fujikawaguchiko, yang berada di kaki Gunung Fuji, bahkan dipasang penghalang visual di sekitar trotoar dan area toko swalayan tertentu guna mencegah wisatawan berfoto sembarangan yang mengganggu lalu lintas dan aktivitas warga. (hm20)






















