Monday, June 22, 2026
home_banner_first
SUMUT

Kisah Roslaini Hutagalung, Penyandang Disabilitas di Tapteng: Rumah Hancur, Belum Dapat Bantuan

Mistar.idSenin, 4 Mei 2026 pukul 11.39 WIB
AN
FM
kisah_roslaini_hutagalung_penyandang_disabilitas_di_tapteng_rumah_hancur_belum_dapat_bantuan

Roslaini Hutagalung bersama anaknya, Rasdin Hutabarat, dan kemenakannya, Rosmalianti Sinaga, mengajak Mistar menyusuri lokasi bencana untuk memperlihatkan kondisi rumahnya yang sudah luluh lantak rata dengan tanah, guna memastikan bahwa ia adalah salah satu korban bencana di Desa Bair, Kecamatan Tapian Nauli, Tapteng. (Foto: Feliks/Mistar)

news_banner


Sementara itu, korban bencana Roslaini Hutagalung menuturkan sangat berharap kepada Bupati Tapteng, Masinton Pasaribu, untuk membantunya mendapatkan bantuan pemerintah seperti jadup dan bantuan rumah rusak agar dapat bertahan hidup pascabencana.

“Tolong bantu aku, Pak Bupati, biar ada makananku bersama anakku sehari-hari untuk ke depannya. Saya saat ini mengontrak rumah, di sini tidak bisa lagi dibangun rumah,” ucapnya penuh harap.

Mengetahui informasi itu, Camat Tapian Nauli, Harrys PT Sihombing, bertindak cepat memanggil Kepala Desa Bair, Nasir Sianturi, ke ruang kerjanya untuk mendengar penjelasan dan klarifikasi terkait keluhan Roslaini Hutagalung yang tidak terdata sehingga tidak mendapatkan bantuan pascabencana.

Nasir menjelaskan, terkait adanya warga Desa Bair yang mengatakan bahwa pihaknya tidak melakukan pendataan sehingga mereka tidak mendapat bantuan, hal itu tidak benar. Menurutnya, pihaknya sudah melakukan pendataan terhadap 46 kepala keluarga (KK) yang selesai pada Januari 2026 lalu.

“Salah satu bukti bahwa sebenarnya pendataan semua 46 KK itu sudah terdaftar di dalam BNBA pendataan korban bencana yang keluar dari kabupaten. Cuma yang menjadi keheranan saya, dari 46 warga Desa Bair yang kita data, hanya 41 KK yang keluar sebagai penerima bantuan jadup, sementara ada 5 KK lagi yang namanya tidak keluar bantuan jadup,” ujarnya.

Demikian juga dengan bantuan dana stimulan, lanjut Nasir, karena dana stimulan isi hunian dan pemulihan ekonomi yang keluar adalah nama-nama dari penerima jadup tahap pertama, maka itu juga yang keluar namanya untuk dana stimulan.

Ia memastikan 5 KK yang belum mendapat bantuan atas nama kepala keluarga Roslaini Hutagalung, Elias Laia, Bintora Hutagalung, Anco Widoyo Silalahi, dan Jeremia Tarihoran, semuanya sudah masuk dalam daftar BNBA. Hanya saja, sampai sekarang nama mereka belum keluar sebagai penerima bantuan, baik itu bantuan jadup ataupun dana stimulan isi hunian dan pemulihan ekonomi.

“Di situ herannya kita. Sementara kita bukan banyak penerima bantuan dari Desa Bair, cuma kenapa sampai saat ini nama mereka tidak keluar? Sementara mereka jelas-jelas didata,” katanya.

Nasir mengaku sangat memahami kemarahan warga korban bencana yang belum menerima bantuan yang dialamatkan kepadanya karena dianggap tidak melakukan pendataan. Ia mengibaratkan sebagian sudah mendapat, seperti makanan, sebagian sudah ‘nambah’, sementara yang belum mendapatkan bantuan bahkan air putih pun belum.

“Wajar memang warga marah kepada saya, cuma dalam hal ini data semua sudah kita masukkan, sudah kita sampaikan. Tidak ada lagi warga kita yang tertinggal, semua sudah masuk data. Buktinya sudah terdaftar di dalam data BNBA. Jadi, untuk itu, saya juga tidak tahu di mana kendalanya lagi. Kalau memang saya mau disalahkan dalam hal ini ada kelalaian, saya mohon maaf,” tuturnya.

Ia menambahkan, jika sudah terdaftar di dalam BNBA, kemungkinan besar namanya akan keluar sebagai penerima bantuan jadup, bantuan stimulan isi hunian, dan pemulihan ekonomi. Menurutnya, sebagai pemerintah desa, tidak ada hak ataupun kewenangan untuk memastikan atau menentukan siapa yang menerima bantuan.

“Hanya saja kalau data, sudah kita selesaikan sejak bulan Januari untuk Desa Bair yang 46 KK. Tinggal pemerintah pusat yang berhak memastikan pencairan bentuk bantuan itu kepada warga korban bencana,” tutupnya. (hm25)

Halaman:

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN