Monday, September 7, 2026
home_banner_first
SUMUT

Kementan Respons Gangguan Kesehatan Ternak Babi di Tanjungbalai

Mistar.idSenin, 7 September 2026 pukul 14.23 WIB
kementan_respons_gangguan_kesehatan_ternak_babi_di_tanjungbalai

Petugas Balai Veteriner Medan saat melakukan pemeriksaan ternak babi di Kelurahan Sirantau, Kecamatan Datuk Bandar, Kota Tanjung Balai. (Foto:dokumen Balai Veteriner Medan/Mistar)

news_banner

Tanjungbalai, MISTAR.ID (7/9/2026) — Kementerian Pertanian (Kementan) merespons laporan terkait gangguan kesehatan yang terjadi pada ternak babi di Kelurahan Sirantau, Kecamatan Datuk Bandar, Kota Tanjungbalai.

Melalui Balai Veteriner Medan yang bekerja sama dengan Dinas Perikanan, Pangan, dan Pertanian Kota Tanjungbalai, pemerintah melakukan pendampingan dan memberikan pelayanan kesehatan hewan langsung di lokasi peternakan pada Kamis (3/9/2026) lalu.

Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, menjelaskan bahwa partisipasi dan laporan yang diberikan peternak merupakan hal penting untuk memperkuat kewaspadaan kesehatan hewan di daerah lebih cepat.

Ia menyebutkan, semua laporan yang diterima akan menjadi prioritas pemerintah untuk memberi pelayanan yang cepat, tepat, dan terukur.

"Tim yang nantinya bertugas akan melakukan pengamatan mendalam, agar dapat mengetahui penyebab gangguan kesehatan dan langkah penanganan medis yang tepat saat hasil pengamatan telah selesai," katanya dalam keterangan tertulis.

Dalam prosesnya, tim veteriner melihat bagaimana kondisi fisik ternak, pola pemeliharaan keseharian, sanitasi kandang, dan riwayat penyakit yang disampaikan peternak.

"Upaya itu dilakukan agar mendapatkan diagnosis yang akurat. Selain itu, diambil juga sampel dari hewan ternak untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium," ucapnya.

Kepala Balai Veteriner Medan, Arif Hukmi, menyampaikan bahwa kerja sama dengan Dinas Pertanian terus dilakukan agar penanganan di lapangan dapat berjalan efektif dan terarah.

"Fokus saat ini adalah mendampingi peternak. Selain itu, kami juga akan pastikan semua prosedur pemeriksaan dilakukan lengkap dan merekomendasikan apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan ternak lainnya," ujarnya, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, sistem keamanan hayati atau biosekuriti yang kuat merupakan kunci utama melindungi populasi babi yang sehat dan mencegah kejadian serupa terulang kembali di kemudian hari.

"Keterbukaan informasi dari petani terkait riwayat kesehatan cukup penting, lalu lintas keluar masuk ternak dan juga kondisi kebersihan lingkungan," tuturnya.

Arif berharap, upaya ini tidak hanya berhenti pada pemeriksaan medis saja. Petani diharap dapat mengambil pelajaran yang penting terkait upaya pencegahan mandiri, pengelolaan tata letak kandang, dan biosekuriti yang tak kalah penting.

Saat ini, Kementan sedang melakukan pemetaan kebutuhan dukungan logistik bersama pemerintah daerah setempat.

"Dukungan yang disiapkan, yaitu penyediaan cairan disinfektan, obat-obatan hewan sesuai indikasi medis, dan bahan pendukung biosekuriti lainnya," tuturnya. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN