Hujan Satu Jam Picu Banjir Susulan di Tukka, Warga Minta Sungai Segera Dikeruk

Air sungai yang sempat naik hingga membanjiri rumah, jalan umum dan sekolah. (foto:feliks/mistar)
Tapteng, MISTAR.ID
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) pada Jumat (24/4/2026) sekitar pukul 16.00 WIB menyebabkan banjir susulan di Kelurahan Hutanabolon dan Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka, meskipun intensitas hujan hanya berlangsung kurang lebih satu jam.
Sejumlah titik yang dilaporkan terdampak banjir yakni jalan umum, rumah warga, dan sekolah. Kondisi ini membuat warga di dua kelurahan tersebut sempat waspada dan merasa cemas akan kemungkinan banjir susulan yang lebih parah.
“Hanya sebentar hujan, tidak sampai satu jam, kondisi Lingkungan I, Kelurahan Hutanabolon mengalami banjir. SD Negeri 152983 Hutanabolon 1 dan sejumlah warga kembali terendam air yang meluap,” ujar Asler Panggabean, petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapteng.
Asler yang juga merupakan warga Hutanabolon itu menyampaikan, kondisi jalan umum yang turut tergenang dan berarus sempat membuat pengendara tidak berani melintas, sehingga warga harus berjalan kaki menuju rumah masing-masing.
Menurutnya, sejumlah warga hanya dapat melakukan pemantauan dari jembatan di Lingkungan I, sebagai lokasi yang lebih tinggi di kawasan tersebut, untuk berjaga-jaga terhadap kenaikan air.
“Beginilah kondisi kami setiap datang hujan, selalu waspada dan cemas dengan kedatangan banjir susulan. Kepada pemerintah kami berharap memperhatikan keadaan ini, kasihani kami untuk memperbaiki situasi ini, jangan biarkan kami menangis lagi,” tuturnya.
Situasi banjir yang lebih parah juga terjadi di Kelurahan Sipange. Menurut warga, air meluap dari Sungai Sipange yang telah mengalami pendangkalan. Akibatnya, seluruh ruas jalan dan rumah warga kembali terendam banjir hingga setengah meter.
“Inilah akibatnya kalau sungai sudah mengalami pendangkalan, apalagi tidak ada dibuat tanggul di bagian sekolah yang dekat dengan sungai ini, sehingga banjir kembali dirasakan warga di Jalan Gereja ini,” ujar Nasip Hutagalung.
Nasip mengatakan, pascabencana banjir bandang dan tanah longsor 2025 lalu, pemerintah dinilai tidak pernah lagi melakukan pengerukan sungai, sehingga setiap hujan turun meski hanya satu jam, banjir tetap menjadi ancaman nyata bagi warga.
Hal senada disampaikan Maria Tambunan yang berharap pemerintah segera turun tangan melakukan pengerukan sungai yang mengalami pendangkalan tersebut, agar warga yang masih trauma dan cemas tidak lagi dihantui ketakutan akibat banjir.
“Kalau bisa saat pengorekan sungai, sebaiknya dilakukan dari bagian hilir, jangan hanya bagian hulu. Kami mohon kepada Bupati dan Gubernur Sumatera Utara mendengar keluhan kami, inilah keadaan kami sekarang, hanya sebentar saja hujan turun langsung banjir,” tuturnya mengakhiri. (hm27)
BERITA TERPOPULER
























