Monday, June 22, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Puluhan Tahun Dibiarkan, Jalan Utama Hutabayu Raja Simalungun Rusak Parah

Mistar.idSenin, 22 Juni 2026 pukul 11.24 WIB
EH
AS
puluhan_tahun_dibiarkan_jalan_utama_hutabayu_raja_simalungun_rusak_parah

Kondisi di Simpang Rhininggol Nagori Silakkidir, Kabupaten Simalungun, rusak parah. (Foto: Abdi/Mistar)

news_banner

Simalungun, MISTAR.ID

Sudah puluhan tahun lamanya, sejumlah ruas jalan utama di Kecamatan Hutabayu Raja, Kabupaten Simalungun, dibiarkan rusak parah.

Berdasarkan pantauan Mistar pada Senin (22/6/2026), kerusakan terlihat jelas mulai dari Simpang Rhininggol Nagori Silakkidir, Nagori Raja Maligas, Nagori Raja Maligas Satu, hingga ke Nagori Bahal Batu. Jalur ini diketahui menjadi jalan utama yang digunakan warga sehari-hari.

Aspal yang dulunya mulus telah terkikis habis, berganti dengan batu-batu besar yang menonjol tajam, gundukan tanah liat, serta lubang-lubang raksasa yang menganga di sepanjang jalan. Kondisi ini memicu penyempitan jalur.

Salah satu warga setempat, Jonar Tambunan, 35 tahun, mengungkapkan kerusakan jalan ini membuat beberapa nagori (desa) seperti terisolasi dari dunia luar.

Akses mobilitas warga yang ingin berbelanja atau memenuhi kebutuhan pokok ke wilayah Perdagangan dan Kota Pematangsiantar menjadi sebuah perjuangan yang sangat berat.

Tidak hanya mengganggu mobilitas, rusaknya jalan ini sangat mempengaruhi sektor perekonomian masyarakat yang mayoritas menggantungkan hidup sebagai petani.

"Rata-rata mata pencaharian kami di sini adalah petani. Kami benar-benar kesulitan akibat jalan rusak ini," kata Jonar.

Dari segi ekonomi, dilanjutkan Jonar, ongkos angkutan untuk membawa hasil pertanian, mulai dari padi, kelapa sawit, jagung, hingga ubi kayu pastinya melonjak drastis. Biaya operasional yang membengkak artinya mengurangi pendapatan para petani.

Krisis infrastruktur ini juga berimbas pada sektor pendidikan di Hutabayu Raja. Jonar membeberkan bahwa angkutan desa (angdes) yang dulunya rutin beroperasi hingga ke pelosok desa, kini kompak mogok dan menolak masuk ke wilayah mereka karena takut armadanya rusak.

"Dahulunya angdes sampai kemari, tapi sekarang tidak lagi. Kondisi ini sangat menyulitkan anak-anak kami pergi sekolah, baik yang menuju ke Kecamatan Tanah Jawa maupun yang menuntut ilmu di Kota Pematangsiantar," tuturnya.

Tak kunjung diperbaikinya jalan di wilayah mereka, seorang pemuda bernama Tumbur Manurung, 24 tahun, menyebutkan kekecewaannya terhadap Pemkab Simalungun.

Ia mempertanyakan kinerja Bupati dan jajarannya di Pemkab Simalungun yang dinilai tutup mata dengan masalah jalan rusak di Kecamatan Hutabayu Raja.

“Seperti kubangan kerbau jalan menuju kampung halamanku bang. Apakah memang betul Pemkab Simalungun tidak peduli lagi melihat masyarakat Hutabayu Raja,” kata Tumbur. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN