Harga Melonjak Tinggi, Kelangkaan Pupuk Urea Subsidi Berdampak ke Petani Simalungun

Areal pertanian di Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun. (foto: Indra/mistar)
Simalungun, MISTAR.ID
Kelangkaan pupuk urea subsidi kembali berdampak terhadap petani di Kabupaten Simalungun. Sejumlah petani padi sawah dan hortikultura di berbagai kecamatan mengaku kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi di tengah musim tanam yang tengah berjalan.
Kondisi ini dirasakan merata, mulai dari Kecamatan Panei hingga Purba, Tapian Dolok, Raya, dan Dolok Pardamean. Para petani menyebut, distribusi pupuk subsidi tersendat, bahkan di beberapa wilayah stok disebut nihil dalam beberapa pekan terakhir.
Di Kecamatan Panei, seorang petani padi, Sumarno, mengaku sudah dua pekan terakhir mencari namun tidak mendapatkan pupuk urea subsidi. "Sudah tanya ke kios resmi, jawabannya kosong. Padahal ini sudah masuk masa pemupukan kedua," ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Keluhan serupa disampaikan petani di Kecamatan Purba. Menurut Binsar Damanik, pupuk subsidi sangat sulit didapat, sehingga ia terpaksa menunda pemupukan. "Kalau tidak dipupuk, hasil panen bisa turun. Tapi kalau beli non subsidi, harganya terlalu mahal," katanya.
Di Kecamatan Raya, Junaidi Saragih, berharap pemerintah segera turun tangan mengatasi distribusi pupuk. "Kami ini sudah tergantung pada pupuk subsidi. Kalau tidak ada, jelas kami kesulitan," ujar ayah dua anak ini.
Baca Juga: Kelangkaan Pupuk Subsidi Disorot DPRD Simalungun, Komisi II Panggil Pupuk Indonesia dan Distributor
Kondisi serupa juga terjadi di Dolok Pardamen. Menurut Sahat Purba, kelangkaan pupuk sudah terjadi berulang kali. "Setiap musim tanam pasti begini. Kami berharap ada solusi nyata, jangan hanya janji," tuturnya.
Seorang penyuluh pertanian di wilayah Habonaron Do Bona membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut saat ini memang terjadi kekosongan stok pupuk di sejumlah wilayah.
"Memang belum ada masuk stok pupuk urea di beberapa kecamatan. Tapi dua minggu lalu sudah ada distribusi di Sidamanik, Tanah Jawa dan beberapa wilayah lain," ucapnya.
Hasil penelusuran Mistar di sejumlah kios pupuk dan penjual pestisida, harga pupuk urea non subsidi kini mencapai Rp600 ribu per sak. Harga ini dinilai memberatkan petani, terutama di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat.
Kelangkaan pupuk subsidi ini dikhawatirkan berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian di Simalungun. Jika tidak segera diatasi, potensi penurunan hasil panen menjadi ancaman nyata bagi ketahanan pangan daerah.
BERITA TERPOPULER























