Buruh Bongkar Muat di Pematangsiantar Mengaku Diintimidasi Oknum Berseragam Loreng saat Negosiasi Upah

Buruh bongkar muat di Pematangsiantar mengaku mendapat intimidasi dari seorang pria berseragam loreng. (Foto: Properti Mistar/Mistar.id)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Sejumlah buruh bongkar muat di Kota Pematangsiantar mengaku mengalami intimidasi yang diduga dilakukan oleh seorang oknum berseragam loreng saat proses negosiasi upah bongkar muat barang, Kamis (4/6/2026).
Peristiwa itu bermula dari negosiasi antara kelompok buruh dan pihak pengawas barang terkait besaran upah bongkar muat sebuah mobil pikap. Menurut keterangan para buruh, pembahasan mengenai upah telah dilakukan sejak Rabu (3/6/2026), namun belum mencapai kesepakatan.
Negosiasi kembali dilanjutkan pada Kamis sekitar pukul 10.00 WIB di depan sebuah ruko di Jalan Rakuta Sembiring, Kota Pematangsiantar. Dalam pertemuan tersebut, menurut para buruh, hadir seorang pria berseragam loreng.
Ketua kelompok buruh yang akrab disapa Dippan mengatakan oknum tersebut sempat melontarkan pernyataan yang dianggap bernada intimidatif.
“Kalau tidak mau istri kalian jadi janda, jangan coba-coba ganggu. Kalau di Papua kalian seperti ini sudah ditembaki,” ujar Dippan menirukan ucapan yang menurutnya disampaikan oleh oknum tersebut.
Informasi itu kemudian disampaikan kepada Jems Steven G., Ketua DPC Siantar-Simalungun Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI), yang mengaku menerima telepon dari para buruh dan datang ke lokasi kejadian.
Jems mengecam tindakan yang diduga dilakukan oleh oknum tersebut dan meminta agar persoalan diselesaikan sesuai mekanisme hukum yang berlaku.
“Apabila benar terjadi intimidasi terhadap masyarakat yang sedang memperjuangkan hak ekonominya, tentu hal itu tidak dapat dibenarkan. Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan melakukan negosiasi secara damai,” ujarnya.
Ia juga menyatakan akan menempuh langkah hukum dengan melaporkan dugaan tindakan tersebut kepada instansi yang berwenang.
“Kami akan mengumpulkan keterangan dan bukti-bukti yang diperlukan untuk kemudian menyampaikan laporan kepada pihak terkait agar peristiwa ini dapat ditindaklanjuti secara objektif,” katanya.
Sementara itu, beberapa pekerja yang berada di lokasi mengaku mendengar langsung percakapan tersebut. Namun, terdapat perbedaan penafsiran mengenai maksud pernyataan yang disampaikan oleh pria berseragam loreng itu.
Salah seorang pekerja, Rizky Ardani, menilai pernyataan tersebut dapat dimaknai sebagai peringatan agar masyarakat tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum.
Di sisi lain, sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi juga sempat berdatangan setelah beredar informasi mengenai adanya perdebatan antara para buruh dan oknum tersebut.
Ketua GESPERSI, Alexander, mengaku mendengar adanya pernyataan yang menurutnya bernada ancaman.
“Ada ucapan yang sampai kepada saya kurang lebih seperti, ‘Kumpulkan sekampung kalian yang keberatan, biar dibawa ke Kodim’,” ujarnya.
BERITA TERPOPULER






















