Saturday, August 8, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Waduh, AI Bisa Rancang Genom Virus

Mistar.idSabtu, 8 Agustus 2026 pukul 11.28 WIB
waduh_ai_bisa_rancang_genom_virus

Ilustrasi. (Foto: Widya.ai)

news_banner

California, MISTAR.ID – Kecerdasan buatan (AI) mulai menunjukkan kemampuan baru di bidang rekayasa genetika. Para peneliti di Amerika Serikat berhasil memanfaatkan AI untuk merancang genom virus secara utuh hingga menghasilkan virus yang dapat berfungsi di laboratorium.

Dalam penelitian tersebut, sebanyak 16 virus baru berhasil dibuat. Seluruhnya merupakan bakteriofag, yaitu jenis virus yang secara khusus menginfeksi bakteri, bukan manusia.

Keberhasilan ini membuka kemungkinan pemanfaatan AI untuk pengembangan terapi baru, termasuk menghadapi infeksi bakteri yang sudah tidak mempan terhadap antibiotik. Bakteriofag sendiri memiliki potensi digunakan untuk menargetkan bakteri tertentu, sehingga temuan tersebut dinilai dapat menjadi pijakan bagi penelitian pengobatan di masa mendatang.

Namun, kemampuan AI dalam merancang materi genetik secara mandiri juga menimbulkan pertanyaan mengenai aspek keselamatan dan keamanan hayati. Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan biosafety dan biosecurity, mengingat teknologi yang mampu menghasilkan virus dari rancangan genetik hingga dapat hidup dan bereplikasi memiliki konsekuensi yang lebih luas.

Sebelumnya, AI telah dimanfaatkan untuk membantu menemukan atau merancang kandidat antibiotik baru. Namun, membuat virus yang dapat berfungsi, menginfeksi organisme target, dan berkembang biak berdasarkan rancangan dari awal merupakan tantangan yang jauh lebih rumit.

"Ini adalah langkah berikutnya dalam tingkat kompleksitas yang bisa dirancang menggunakan AI generatif. Untuk pertama kalinya AI generatif digunakan untuk mendesain genom lengkap, sesuatu yang dapat bereplikasi dan menjalankan berbagai fungsi di dalam sel. Ini benar-benar wilayah baru bagi kami," kata Brian Hie, asisten profesor di Universitas Stanford, dikutip dari BBC, Sabtu (8/8/2026).

Cara kerja AI dalam penelitian tersebut memiliki kemiripan dengan model bahasa besar (large language model) seperti ChatGPT. Jika ChatGPT mempelajari pola bahasa manusia untuk memperkirakan kata yang muncul berikutnya, model yang digunakan para peneliti justru mempelajari pola dalam kode genetik atau yang mereka sebut sebagai "bahasa kehidupan".

Model AI bernama Evo1 dan Evo2 dilatih menggunakan kumpulan data kode genetik dari beragam organisme, mulai dari virus, bakteri, tumbuhan hingga manusia. Dengan bekal tersebut, model kemudian digunakan untuk merancang bakteriofag (phage), yakni virus yang secara khusus menargetkan bakteri.

Brian Hie mengatakan penelitian ini membawa pemanfaatan AI dalam biologi ke tahap baru. Teknologi tersebut tidak lagi hanya digunakan untuk membaca dan menganalisis materi genetik yang sudah tersedia, tetapi juga mampu menghasilkan rancangan genom yang sebelumnya belum ada.

Dari 302 rancangan, hanya 16 yang berhasil

Tim peneliti dari Stanford memilih 302 rancangan bakteriofag yang dinilai paling potensial untuk disintesis di laboratorium. Setelah diuji, hanya 16 rancangan yang terbukti berfungsi dan mampu menginfeksi sekaligus membunuh bakteri Escherichia coli (E. coli).

Samuel King, mahasiswa doktoral yang terlibat dalam penelitian, mengatakan keberhasilan eksperimen itu diketahui tim pada dini hari. Virus hasil rancangan AI ditempatkan dalam cawan petri yang telah berisi lapisan bakteri untuk melihat apakah virus tersebut dapat menyerang dan menghancurkan E. coli.

"Kami mulai melihat munculnya bercak-bercak bening, dan itu sangat mengasyikkan," ujar King.

Keberhasilan tersebut memberikan peluang bagi pengembangan bakteriofag baru yang nantinya dapat digunakan untuk melawan infeksi bakteri yang telah resisten terhadap antibiotik.

Terapi bakteriofag sebenarnya bukan gagasan baru. Para peneliti telah lama mempelajarinya sebagai alternatif untuk menghadapi meningkatnya resistensi antibiotik. Yang membedakan penelitian ini adalah peran AI yang mulai memungkinkan para ilmuwan merancang bentuk biologis baru yang tidak harus ditemukan terlebih dahulu di alam.

Kemampuan tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam bidang biologi sintetis (synthetic biology), yang berupaya merancang atau membangun sistem biologis dengan pendekatan rekayasa. (bbc)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN