Naskah Kuno Sejarawan Yahudi Memuat Catatan Awal Kebangkitan Yesus?

Testimonium Flavianum adalah sebuah bagian yang membahas Yesus dalam buku Jewish Antiquities, karya sejarah tentang bangsa Yahudi yang ditulis Flavius Josephus sekitar tahun 93–94 Masehi. (foto: Oxford University via Daily Mail)
Barcelona, MISTAR.ID - Sebuah penelitian baru mengajukan kemungkinan bahwa karya seorang sejarawan Yahudi abad pertama, Flavius Josephus, semula memuat catatan mengenai laporan para pengikut Yesus yang mengaku melihatnya hidup kembali setelah penyaliban.
Dilansir Daily Mail, peneliti independen yang berbasis di Barcelona, Spanyol, Jesús Fernández-Pedrera Correa, mengkaji teks kontroversial bernama Testimonium Flavianum dalam buku Jewish Antiquities, yang ditulis Josephus sekitar tahun 93–94 Masehi.
Josephus bukan seorang Kristen. Karena itu, catatannya mengenai Yesus menjadi salah satu sumber penting dalam kajian sejarah tentang bagaimana sosok Yesus dikenal di luar tradisi Kristen pada abad pertama.
Dalam penelitiannya, Fernández-Pedrera Correa membandingkan empat tradisi teks dalam bahasa Yunani, Latin, Arab, dan Siria. Ia berusaha mengidentifikasi bagian yang kemungkinan berasal dari tulisan asli Josephus dan bagian yang mungkin mengalami perubahan selama proses penyalinan.
Salah satu perbedaan penting ditemukan pada keterangan mengenai kemunculan Yesus setelah penyaliban.
Versi Yunani menyebut Yesus menampakkan diri dalam keadaan hidup pada hari ketiga. Kalimat tersebut juga menghubungkan peristiwa itu dengan nubuat para nabi.
Versi Latin menyatakan bahwa Yesus menampakkan diri kepada para pengikutnya dalam keadaan hidup pada hari ketiga. Sementara itu, versi Arab menyampaikan kemunculan tersebut sebagai sesuatu yang dilaporkan oleh para murid.
Perbedaan redaksi ini menjadi dasar argumen Fernández-Pedrera Correa. Ia menduga Josephus semula hanya mencatat laporan para pengikut Yesus yang mengaku telah melihatnya hidup setelah penyaliban, bukan secara langsung menyatakan bahwa kebangkitan itu benar-benar terjadi.
Ia juga mengajukan kemungkinan bahwa redaksi tersebut kemudian mengalami perluasan melalui tradisi penyalinan Kristen, sehingga memuat pernyataan lebih tegas mengenai kebangkitan dan penggenapan nubuat Kitab Suci.
Pernyataan Yesus sebagai Mesias Dipersoalkan
Bagian lain yang menjadi perhatian adalah pernyataan bahwa Yesus merupakan Kristus atau Mesias.
Dalam versi Yunani, identitas Yesus sebagai Kristus dinyatakan secara langsung. Namun, versi Latin dan Siria menggunakan ungkapan yang menunjukkan bahwa Yesus dipercaya atau dianggap sebagai Mesias. Versi Arab bahkan menggunakan kata yang lebih berhati-hati, yakni bahwa Yesus mungkin adalah Mesias.
Fernández-Pedrera Correa menilai perbedaan tersebut menjadi petunjuk bahwa pernyataan langsung dalam versi Yunani kemungkinan bukan redaksi asli Josephus.
Ia juga merujuk pada tulisan Origenes, seorang penulis Kristen awal, yang menyatakan bahwa Josephus tidak menerima Yesus sebagai Mesias.
Selain itu, versi Yunani memuat kalimat yang menghubungkan berbagai peristiwa tentang Yesus dengan nubuat para nabi. Menurut peneliti tersebut, ungkapan ini lebih mencerminkan keyakinan Kristen daripada gaya seorang sejarawan Yahudi yang sekadar mencatat laporan suatu kelompok keagamaan.
Josephus sendiri diketahui pernah mencatat keyakinan kelompok-kelompok keagamaan tanpa harus menyetujui pandangan mereka. Karena itu, ia mungkin juga mencatat kesaksian para pengikut Yesus tanpa menerima klaim mereka sebagai kebenaran.
Bagian lain yang diperdebatkan adalah ungkapan yang mempertanyakan apakah Yesus layak disebut sebagai manusia. Kalimat tersebut menyiratkan bahwa Yesus memiliki kedudukan yang melampaui manusia biasa.
Ungkapan itu tidak ditemukan dalam versi Arab, tetapi masih terdapat dalam versi Latin dan Siria. Fernández-Pedrera Correa menilai perbedaan tersebut perlu diperhitungkan, meskipun belum cukup untuk memastikan bahwa kalimat itu merupakan tambahan belakangan.
Sebaliknya, ia menilai bagian penutup Testimonium Flavianum lebih mungkin mempertahankan redaksi asli Josephus.
Bagian tersebut menyebut bahwa kelompok orang Kristen belum lenyap hingga masa ketika Josephus menulis karyanya. Menurut peneliti tersebut, susunan dan isi pernyataan itu sesuai dengan kebiasaan penulisan Josephus dan tidak menunjukkan perbedaan mencolok dalam tradisi teks yang dibandingkan.
Belum Ada Manuskrip Asli dari Abad Pertama
Meski menawarkan perspektif baru, penelitian ini belum dapat memastikan secara tepat bagaimana bentuk asli Testimonium Flavianum ketika pertama kali ditulis.
Naskah yang dibandingkan bukan manuskrip asli dari masa Josephus. Versi Latin berkaitan dengan tulisan Hieronimus atau Jerome sekitar tahun 392 Masehi, sedangkan versi Arab dan Siria diwariskan melalui karya Agapius dari Hierapolis pada abad ke-10 dan Michael orang Siria pada abad ke-12.
Dengan demikian, penelitian tersebut mengandalkan tradisi teks yang telah melewati proses penerjemahan, penyalinan, dan penuturan ulang selama berabad-abad.
Perbandingan berbagai versi memang dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan perubahan redaksi. Namun, metode tersebut tidak dapat memastikan seluruh kata yang digunakan Josephus dalam naskah aslinya.
Penelitian Fernández-Pedrera Correa sendiri dipublikasikan sebagai preprint, sehingga argumennya masih perlu diuji dan didiskusikan lebih lanjut oleh kalangan akademis.
Temuan ini kembali membuka perdebatan mengenai bagaimana seorang sejarawan Yahudi abad pertama mencatat sosok Yesus dan laporan para pengikutnya. Namun, apakah Josephus sejak awal benar-benar menuliskan kesaksian mengenai Yesus yang menampakkan diri setelah penyaliban masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab secara pasti. (*)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER







Prediksi Villarreal vs Espanyol di LaLiga: Kapal Selam Kuning Berpeluang Bangkit, Ini Susunan Pemain


































