Tuesday, August 25, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Masyarakat Bisa Pantau Langsung Titik Panas di Indonesia Melalui Ponsel

Mistar.idSelasa, 25 Agustus 2026 pukul 08.09 WIB
masyarakat_bisa_pantau_langsung_titik_panas_di_indonesia_melalui_ponsel

Foto udara bekas tebangan kayu yang terbakar di Tenam, Batang Hari, Jambi, Jumat (21/8/2026). (Foto: Antara/Wahdi Septiawan/YU)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID – Di tengah musim kemarau dan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, masyarakat dapat ikut memantau kondisi lingkungan sekitar. Dengan teknologi satelit, hotspot atau titik panas bisa dideteksi langsung melalui ponsel.

Informasi tersebut tersedia melalui sejumlah layanan resmi yang dapat digunakan masyarakat untuk melihat wilayah yang terindikasi mengalami anomali suhu.

Data hotspot dapat membantu mengidentifikasi daerah yang perlu mendapat perhatian, tetapi tetap merupakan indikasi awal yang perlu dianalisis dan, bila diperlukan, diverifikasi di lapangan.

Hotspot atau titik panas merupakan lokasi di permukaan bumi yang terdeteksi mengalami anomali suhu panas oleh sensor satelit. Sementara itu, karhutla merupakan kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan/atau lahan. Karena itu, munculnya hotspot tidak selalu menandakan terjadinya karhutla.

Berikut cara dan platform untuk mengecek hotspot serta memantau informasi karhutla seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Selasa (25/8/2026):

1. SiPongi+ Kemenhut

SiPongi+ merupakan Sistem Pemantauan Karhutla milik Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Layanan ini menyediakan data dan informasi hotspot terkini serta informasi lain terkait kebakaran hutan.

Cara mengeceknya:

  1. Buka laman SiPongi+ di https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id/
  2. Pilih menu Peta Hotspot untuk melihat persebaran titik panas.
  3. Perbesar peta pada wilayah yang ingin dipantau.
  4. Perhatikan titik hotspot yang muncul.
  5. Cek tingkat kepercayaan pada setiap titik.
  6. Untuk melihat informasi lebih detail, buka menu Sebaran Titik Panas, kemudian pilih periode, provinsi, satelit, dan tingkat kepercayaan sesuai kebutuhan.

Pada SiPongi+, warna menunjukkan tingkat kepercayaan atau confidence level hotspot.

  1. Hijau atau low (0-29 persen): indikasi rendah.
  2. Kuning atau medium (30-79 persen): indikasi sedang dan perlu diverifikasi.
  3. Merah atau high (80-100 persen): indikasi tinggi dan perlu mendapat perhatian lebih.

Meski memiliki tingkat kepercayaan tinggi, hotspot tetap bukan bukti mutlak adanya kebakaran. Data satelit perlu dikombinasikan dengan informasi lain dan, jika diperlukan, pengecekan langsung di lapangan.

2. Citra Polar Hotspot BMKG

BMKG menyediakan layanan Citra Polar Hotspot yang menampilkan citra satelit terbaru untuk membantu memantau lokasi hotspot di Indonesia. Pengamatan dilakukan siang dan malam menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada beberapa satelit polar.

Cara mengeceknya:

  1. Buka laman https://www.bmkg.go.id/cuaca/satelit/polar-hotspot
  2. Lihat peta citra satelit dan deteksi hotspot yang diperbarui secara berkala.
  3. Cari wilayah yang ingin dipantau melalui menu pencarian.
  4. Amati titik hotspot dan persebarannya.

Berbeda dengan SiPongi+, data pada laman Citra Polar Hotspot BMKG perlu dipahami dengan memperhatikan lokasi, persebaran, serta waktu pengamatan.

BMKG menjelaskan hotspot sebagai anomali suhu panas yang terdeteksi satelit dibandingkan kondisi di sekitarnya. Namun, hotspot tidak dapat terdeteksi pada wilayah yang tertutup awan atau berada di blank zone. Artinya, tidak adanya hotspot bukan berarti wilayah tersebut dipastikan bebas dari kebakaran.

3. Google Maps

Selain layanan pemerintah, Google Maps dapat digunakan sebagai tambahan untuk melihat informasi kebakaran aktif. Berbeda dengan SiPongi+ dan BMKG, Google Maps tidak menampilkan data hotspot dengan tingkat kepercayaan yang sama, tetapi informasi wildfires atau kebakaran yang sedang berlangsung.

Cara mengeceknya:

  1. Buka aplikasi Google Maps.
  2. Ketuk menu Lapisan atau Layers.
  3. Pilih Wildfires atau Kebakaran hutan jika tersedia.
  4. Perbesar peta pada wilayah yang ingin dipantau.
  5. Ketuk ikon atau area kebakaran untuk melihat informasi yang tersedia.

Pada Google Maps, kebakaran dapat muncul sebagai ikon kebakaran atau lingkaran merah. Area merah menunjukkan perkiraan wilayah yang terdampak kebakaran aktif, sedangkan area kuning menunjukkan wilayah dengan tingkat kepastian kebakaran yang lebih rendah.

Google menggunakan sejumlah sumber, termasuk informasi otoritas dan data satelit, serta teknologi AI dan machine learning untuk mendeteksi dan memantau kebakaran. Namun, informasi tersebut bersifat perkiraan sehingga batas kebakaran pada peta dapat berbeda dari kondisi sebenarnya di lapangan.

Pahami Informasi Hotspot dan Karhutla

Pemahaman terhadap data hotspot penting agar masyarakat tidak menganggap titik panas sebagai bukti pasti terjadinya karhutla. Hotspot merupakan hasil deteksi satelit yang dapat menjadi indikasi awal, tetapi tetap memiliki keterbatasan.

Karena itu, pantau data dari sumber resmi secara berkala serta perhatikan waktu dan kondisi wilayah yang dipantau. Jika melihat asap atau api secara langsung, hindari mendekati lokasi dan segera laporkan kepada pihak berwenang untuk ditindaklanjuti. (cnbc)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN