Ilmuwan Peringatkan 2026 Berpeluang Jadi Tahun Terpanas dalam Sejarah

Ilustrasi. (foto: nano banana/mistar)
Washington, MISTAR.ID-Kebakaran hutan melanda Amerika Utara dan Eropa, gelombang panas ekstrem menyelimuti berbagai kota, sementara suhu permukaan laut dunia mencatat rekor tertinggi untuk periode ini. Para ilmuwan memperingatkan kombinasi pemanasan global akibat aktivitas manusia dan fenomena El Nino yang semakin kuat dapat menjadikan 2026 sebagai tahun terpanas dalam sejarah.
Hingga saat ini, 2026 masih menempati posisi sebagai tahun terpanas ketiga setelah 2024 dan 2025. Namun, peluang untuk melampaui rekor tersebut terus meningkat seiring menguatnya El Nino.
Ilmuwan iklim Berkeley Earth, Zeke Hausfather, memperkirakan peluang 2026 menjadi tahun terpanas kini mencapai 35 persen, naik signifikan dari hanya 7 persen pada Maret.
"Selama beberapa tahun terakhir, perang di berbagai belahan dunia membuat banyak orang kurang memperhatikan perubahan iklim. Kini dunia kembali terbakar akibat perubahan iklim dan semakin sulit untuk diabaikan. Keadaan ini akan terus memburuk," ujarnya seperti dilansir Associated Press, Rabu (5/8/2026).
Mantan ilmuwan senior NASA, James Hansen, juga memprediksi 2026 akan sedikit melampaui rekor 2024. Menurutnya, suhu permukaan laut yang terus memecahkan rekor sejak Juni akan segera mendorong kenaikan suhu rata-rata global. Data layanan iklim Copernicus menunjukkan sekitar 82 persen permukaan laut dunia mengalami gelombang panas laut tahun ini.
Sebelumnya, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) hanya memperkirakan peluang 2026 menjadi tahun terpanas sebesar 0,1 persen. Namun, NOAA Russell Vose mengatakan peluang tersebut kemungkinan akan meningkat setelah evaluasi data Juli selesai.
Para ilmuwan menilai perubahan proyeksi dipicu oleh El Nino yang diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Fenomena ini memanaskan Samudra Pasifik tropis, meningkatkan suhu rata-rata bumi, dan memicu cuaca ekstrem di berbagai kawasan.
Meski demikian, Zachary Labe dari Climate Central menegaskan El Nino bukan penyebab utama cuaca ekstrem yang terjadi saat ini.
"Penggerak utama suhu ekstrem adalah perubahan iklim. Kontribusinya jauh lebih besar daripada El Nino, yang hanya menambah sekitar 0,1 hingga 0,2 derajat Celsius di atas tren pemanasan jangka panjang," katanya.
Menurut para ilmuwan, kebakaran hutan, gelombang panas, dan cuaca ekstrem sepanjang musim panas 2026 merupakan dampak nyata pemanasan global akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas. Hansen menambahkan laju pemanasan global kini semakin cepat, antara lain karena berkurangnya polusi udara yang sebelumnya sedikit menutupi efek pemanasan gas rumah kaca.
Gelombang panas tahun ini juga terjadi lebih sering dan meluas. Samantha Burgess dari Copernicus menyebut Eropa mengalami gelombang panas berulang sejak Mei, sementara kondisi serupa juga melanda Amerika Utara, Amerika Selatan, dan India.
Ilmuwan Princeton University, Michael Oppenheimer, menegaskan kondisi saat ini merupakan bukti nyata dampak perubahan iklim.
"Tidak diragukan lagi bahwa perubahan iklim telah meningkatkan risiko kebakaran hutan dan kemungkinan terjadinya musim panas yang sangat panas, ekstrem, bahkan belum pernah terjadi sebelumnya di berbagai belahan dunia," ujarnya. (apnews)
PREVIOUS ARTICLE
Lima Negara Ini Dapat Menyaksikan Gerhana Matahari Total






















