Tuesday, August 11, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Hewan Unik Ini Lama Dikenal dari Museum, Terakhir Ditemukan Kembali di Brasil

Mistar.idSelasa, 11 Agustus 2026 pukul 21.24 WIB
hewan_unik_ini_lama_dikenal_dari_museum_terakhir_ditemukan_kembali_di_brasil

Atretochoana eiselti saat ditemukan di Sungai Madeira. (foto: juliano tupan via wikipedia)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Atretochoana eiselti merupakan spesies sesilia, yaitu kelompok amfibi tanpa kaki yang tubuhnya menyerupai cacing atau ular dan masih berkerabat dengan katak serta salamander.

Spesies ini menarik perhatian karena menjadi tetrapoda terbesar yang diketahui tidak memiliki paru-paru, sekaligus satu-satunya sesilia yang diketahui tidak memiliki organ tersebut.

Keberadaan A. eiselti sempat menjadi misteri. Spesies ini pertama kali diketahui dari spesimen yang disimpan di Naturhistorisches Museum di Wina, Austria. Selama bertahun-tahun, peneliti hanya memiliki spesimen museum untuk mempelajari hewan tersebut.

Pada 1968, spesies ini ditempatkan dalam genus Typhlonectes dengan nama Typhlonectes eiselti. Setelah penelitian lebih lanjut menemukan sejumlah perbedaan anatomi yang mencolok, spesies tersebut kemudian ditempatkan dalam genus tersendiri, Atretochoana. Penelitian berikutnya menunjukkan Atretochoana lebih dekat kekerabatannya dengan genus Potamotyphlus dibandingkan Typhlonectes.

Pada 1998, spesimen kedua ditemukan dalam koleksi Universidade de Brasília. Lokasi dan waktu pengambilannya tidak diketahui secara pasti, tetapi spesimen tersebut diduga berasal dari Brasil. Penemuan ini memperkuat dugaan bahwa A. eiselti masih bertahan di alam dan suatu saat dapat ditemukan kembali.

Ditemukan Kembali di Habitat Alaminya

Penemuan di alam terjadi pada 2011. Peneliti melaporkan keberadaan A. eiselti di dua lokasi Amazon Brasil yang berjauhan, yakni sekitar Pulau Mosqueiro dan Teluk Marajó dekat Belém, serta Cachoeira Santo Antônio di Sungai Madeira, Rondônia.

Di Sungai Madeira, beberapa individu ditemukan di lokasi proyek pembangunan Bendungan Hidroelektrik Santo Antônio. Tiga spesimen dikumpulkan untuk penelitian, sedangkan beberapa individu lain dilepaskan kembali ke sungai. Di Teluk Marajó, dua spesimen juga berhasil diperoleh dari nelayan dan disimpan dalam koleksi Museu Paraense Emílio Goeldi.

Temuan tersebut penting karena sebelumnya A. eiselti hanya dikenal dari spesimen yang tersimpan dalam koleksi museum. Spesies ini bukan hewan yang telah dinyatakan punah, tetapi keberadaannya di alam sangat sulit diketahui.

Menariknya, lokasi penemuan tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan dugaan awal mengenai habitatnya. A. eiselti sebelumnya diperkirakan hidup di perairan dingin dan mengalir deras. Namun, beberapa individu justru ditemukan di perairan yang tidak sesuai dengan gambaran tersebut.

Tetrapoda Terbesar Tanpa Paru-paru

A. eiselti memiliki tubuh panjang tanpa kaki dengan pola cincin seperti cacing tanah. Kepalanya lebar dan pipih, lubang hidungnya tertutup, serta memiliki sirip berdaging di bagian punggung.

Dua spesimen yang diketahui memiliki panjang sekitar 72,5 sentimeter dan 80,5 sentimeter. Spesimen sepanjang 80,5 sentimeter yang dilaporkan pada 1998 menjadi tetrapoda tanpa paru-paru terbesar yang diketahui.

Keunikan A. eiselti karena tidak memiliki paru-paru, ketika sebagian besar sesilia memiliki setidaknya organ itu. Spesies ini juga tidak memiliki arteri dan vena pulmonalis serta memiliki saluran hidung bagian dalam (choana) yang tertutup.

Pertukaran gas diduga berlangsung melalui kulit. Permukaan kulitnya dipenuhi pembuluh kapiler yang memungkinkan oksigen masuk dan karbon dioksida keluar.

Cara hidup A. eiselti juga masih belum sepenuhnya diketahui. Spesies ini merupakan hewan akuatik dan diperkirakan kemungkinan merupakan predator atau pemakan bangkai. Reproduksinya diduga bersifat vivipar atau melahirkan.

Karena informasi mengenai populasi dan persebarannya masih sangat terbatas, spesies ini lama dikategorikan Data Deficient (DD) dalam penilaian konservasi.

Di media, hewan ini kerap mendapat julukan “penis snake” atau “ular penis” karena bentuk tubuhnya yang menyerupai organ genital laki-laki. Namun, A. eiselti bukan ular, melainkan amfibi dari kelompok sesilia.

Sumber: Animals Fandom; Boletim do Museu Paraense Emílio Goeldi; Journal of Natural History.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN