Air Terjun Darah di Antartika Penuh dengan Kehidupan Organisme Laut

Air terjun darah di Antartika. (Foto: instagram.com/physics_is_nature)
Antartika, MISTAR.ID - Air Terjun Darah (Blood Falls) di benua Antartika yang berada di tepi timur Gletser Taylor di McMurdo Dry Valleys, Antartika, ternyata penuh dengan kehidupan komunitas organisme laut. Meski lokasinya berada lebih dari 32 kilometer dari samudra.
Aliran air merah pekat yang mengalir ke Danau Bonney itu memiliki warna khas Blood Falls berasal dari air garam yang kaya zat besi dan mengalir menuruni tebing batu. Meski demikian, asal pasti air tersebut selama ini masih menjadi misteri.
Temuan terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience menunjukkan bahwa air asin tersebut menjadi habitat bagi komunitas organisme laut yang khas.
Salah satu penulis studi sekaligus ekolog mikroba di University of California, San Diego, Andrew E. Allen, mengatakan keberadaan organisme khusus air asin itu menunjukkan bahwa sistem air di bawah gletser berasal dari laut.
"Menemukan sesuatu yang pada dasarnya merupakan oasis laut yang tumbuh subur di gurun kutub lebih dari 32 km dari samudra adalah luar biasa," kata Allen seperti dikutip dari Popular Science.
Ia menambahkan, "Komunitas mikroba beragam yang kami temukan tetap mempertahankan koneksi biologis dengan lingkungan laut purba, sekaligus menunjukkan ketahanan dan kemampuan adaptasi kehidupan yang luar biasa."
Studi geokimia sebelumnya di kawasan tersebut menunjukkan sumber air yang mengaliri Blood Falls kemungkinan berasal dari air laut yang membanjiri Lembah Taylor pada periode hangat di masa lalu. Air tersebut kemudian terisolasi di bawah Gletser Taylor yang terus meluas ketika permukaan air laut surut.
Untuk menelusuri asal-usul mikroba di Gletser Taylor dan Blood Falls, tim peneliti menganalisis 167 sampel air, sedimen, dan udara menggunakan berbagai teknik genetik guna mengidentifikasi mikroorganisme yang terdapat dalam setiap sampel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroorganisme dalam es merah, sedimen, dan lumpur di bagian terendah gletser hampir seluruhnya berhubungan dengan lingkungan laut. Sementara itu, lokasi di sekitarnya didominasi organisme yang lazim ditemukan di air tawar dan daratan.
Allen mengatakan aktivitas biologis yang terdeteksi melalui analisis mRNA menunjukkan komunitas laut purba tersebut tidak hanya bertahan dalam kondisi membeku, tetapi juga tetap hidup meski menghadapi perubahan lingkungan yang sangat drastis.
"Aktivitas biologis yang kami amati dari analisis mRNA menunjukkan komunitas laut purba ini tidak sekadar membeku dimakan waktu, tetapi entah bagaimana mampu bertahan meskipun terjadi perubahan lingkungan yang sangat drastis," jelas Allen. (hm25/detiknet)






















