Saturday, September 26, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Ubah Eceng Gondok dan Red Devil Jadi Pelet Murah, MAN Karo Raih Emas di Malaysia

Mistar.idSabtu, 26 September 2026 pukul 19.19 WIB
ubah_eceng_gondok_dan_red_devil_jadi_pelet_murah_man_karo_raih_emas_di_malaysia

Siswa MAN Karo yang berhasil meraih Gold Medal pada ajang World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di Malaysia. (foto: dok MAN Karo)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Enam siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Karo meraih Gold Medal pada ajang World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di Malaysia lewat inovasi ECORED, pelet ikan ramah lingkungan berbahan eceng gondok dan ikan Red Devil yang dikembangkan dengan konsep modal nol rupiah.

Inovasi di bidang Environmental Science tersebut berhasil menarik perhatian juri internasional dalam kompetisi yang berlangsung di SEGi University, Malaysia, pada 20-24 September 2026.

Di bawah bimbingan guru Harsona Sinurat, ECORED dikembangkan oleh Nesa Insyirah Sitepu, Salsa Nabila, Levina Karo, Piyana, Talitha Putri Ginting Suka dan Quinsa Dikta Arisya.

Harsona mengungkapkan, inovasi tersebut berawal dari keinginan para siswa untuk mengubah persoalan lingkungan menjadi sumber daya yang bermanfaat. Konsep ECORED memanfaatkan dua bahan utama yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Dirancang dengan konsep modal nol rupiah, karena memanfaatkan dua bahan utama yang ada berasal dari lingkungan sekitar,” kata Harsona, Sabtu (26/9/2026).

Ia menjelaskan, eceng gondok selama ini menjadi salah satu persoalan pada ekosistem perairan. Sementara Red Devil dikenal sebagai spesies invasif yang dapat mengganggu ekosistem.

Eceng gondok dan Red Devil tersebut kemudian dimanfaatkan para siswa sebagai bahan baku pelet ikan yang dikembangkan dengan pendekatan ramah lingkungan.

Menurut Harsona, proses mengikuti kompetisi internasional juga memberikan pengalaman penting bagi para siswa. Mereka tidak hanya mengembangkan ide, tetapi juga belajar mengolah bahan, menyusun konsep penelitian hingga mempresentasikan hasil inovasi di hadapan juri internasional.

“Yang paling penting dan terutama adalah prosesnya. Mereka belajar bahwa untuk menciptakan sebuah inovasi perlu kerja keras, kerja sama, keberanian serta ketekunan,” tuturnya.

Kepala MAN Karo, Ashari Fahmi, mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, inovasi ini tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga menawarkan solusi bagi persoalan ekologis perairan lokal yang dapat dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.

“Gold Medal ini lebih dari penghargaan. Ini menjadi bukti bahwa madrasah mampu menciptakan generasi muda yang kreatif, inovatif, berani berpikir dan melahirkan solusi bagi lingkungan,” ucapnya.

Ia mengaku bangga karena para siswa MAN Karo mampu membawa persoalan lingkungan dari daerah ke ajang tingkat global dan meraih penghargaan.

Ashari berharap prestasi tersebut dapat menjadi pemantik bagi siswa lainnya untuk terus belajar, berinovasi dan menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN