Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Menanam Karakter Lewat ‘Jubah-Julit-Jus’ dan Memanen Prestasi di SMAN 2 Medan

Mistar.idJumat, 2 Januari 2026 pukul 15.35 WIB
menanam_karakter_lewat_jubahjulitjus_dan_memanen_prestasi_di_sman_2_medan

Jumat Literasi, salah satu program di SMA Negeri 2 Medan dalam pengembangan literasi siswa. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

SMA Negeri 2 Medan membuktikan prestasi akademik yang gemilang harus tumbuh dari akar karakter yang kuat. Sekolah ini tidak hanya mengejar nilai, tetapi menjadi ruang tumbuh bagi bakat dan spiritualitas siswa melalui tiga program andalan: Jubah (Jumat Ibadah), Julit (Jumat Literasi dan Bakat), dan Jus (Jumat Sehat).

Setiap tiga minggu sekali di hari Jumat, siswa bergantian mengikuti program ini. Dalam kegiatan ‘Jubah’, siswa beragama Kristen berkumpul di Aula sementara siswa beragama Islam berkumpul di lapangan mengikuti doa dan refleksi keagamaan.

Siti Aisyah Sagala, guru Agama Islam, menilai Jubah sebagai jurus jitu membiasakan siswa dekat dengan rutinitas keagamaan. Ia menyadari bahwa siswa mendapat manfaat yang banyak dari Jubah, termasuk kedisiplinan dan kebersamaan.

“Jumat Ibadah bukan hanya rutinitas mingguan, melainkan proses panjang pembentukan manusia seutuhnya. Dari ruang sekolah yang sederhana, lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan spiritual serta siap melangkah dengan nilai, bukan sekadar pengetahuan,” kata Siti.

Sementara itu, ‘Julit’ menjadi ajang unjuk keberanian. Setiap siswa datang ke sekolah dengan keunikan masing-masing. Sekolah yang ramah bakat tidak memaksa semua siswa berjalan di jalur yang sama, tetapi justru menyediakan panggung agar potensi itu bisa muncul dan berkembang. Pandangan Drs Marsito, MSi, selaku kepala SMAN 2 Medan inilah yang menginisiasi kegiatan Julit ini.

Hizkia, siswa dari XII Orbit menyebut kegiatan ini meningkatkan rasa percaya diri dan kekompakan kelas. Senada dengan itu, Manda Nesya dari XII Asteroid merasa Julit meningkatkan kreativitas.

Literasi dan pertunjukan bakat berjalan beriringan. Apa yang dibaca dan ditulis siswa sering kali menjadi napas bagi karya yang mereka tampilkan. Sekolah pun menjadi panggung besar bagi proses belajar yang utuh, belajar berpikir dan belajar merasa.

Melengkapi karakter fisik, program ‘Jus’ hadir melalui senam bersama. Fatih, Sang Duta Sekolah, menilai program ini membangun keseimbangan antara belajar dan kebugaran. Melalui aktivitas fisik yang teratur, siswa diajak mengenal tubuhnya sendiri dan merawat kesehatan.

“Dari gerak yang serempak dan tawa yang tercipta, sekolah membangun lingkungan yang sehat, positif, dan berkarakter,” tuturnya.

Karakter yang kuat ini kemudian bermuara pada prestasi. SMAN 2 Medan juga menerapkan budaya apresiasi setiap hari Senin. Afri Amelia, staf kurikulum sekaligus guru, menjelaskan bahwa sekolah memberikan penghargaan berupa sertifikat dan uang tunai bagi siswa yang menang lomba di tingkat lokal, nasional, hingga internasional (Puspresnas, OSN, FLS3N).

"Kadang seminggu itu mau sampai 30 orang yang berprestasi melaporkan sertifikatnya. Pihak sekolah memberi penghargaan supaya mereka lebih termotivasi," ucap Afri.

Semangat kompetisi ini juga diwadahi melalui acara tahunan seperti Smandu Fair, pentas seni yang mengkolaborasikan kewirausahaan (seperti pembuatan gaun dari kemasan bekas Pop Ice), serta berbagai turnamen olahraga mulai dari Futsal Series, event basket isoiki hingga Classmeet.

Di bidang bahasa, ekskul bahasa Jepang ‘Nihongo Kurabu’ menjadi bukti inklusivitas pengembangan potensi siswa. Dinamika akademik juga menyentuh aspek emosional melalui kegiatan Parenting kelas X dan persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi kelas XII.

Afri Amelia, yang telah merasakan perubahan kurikulum sejak 2010 dari KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) hingga Kurikulum Merdeka, menyebut bahwa guru kini lebih kreatif dengan gawai dan Canva, meski ada aturan penyimpanan gawai untuk menjaga fokus siswa.

Ia menekankan pentingnya proses memahami siswa yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Harapannya, kepemimpinan Marsito yang peduli terhadap minat bakat dan kesejahteraan guru, dapat terus berlanjut.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN