Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Mahasiswa USU Edukasi Anti-Perundungan di SMAS Plus Al Azhar Medan

Mistar.idRabu, 10 Desember 2025 pukul 19.16 WIB
mahasiswa_usu_edukasi_antiperundungan_di_smas_plus_al_azhar_medan

Mahasiswa USU melakukan sosialisasi bahaya perundungan kepada siswa di SMA Swasta Plus Al Azhar Medan. (foto:istimewa/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Kasus perundungan yang terus meningkat di kalangan remaja mendorong mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) untuk turun langsung melakukan edukasi ke sekolah. Kelompok 77 Proyek Anti-Perundungan dari Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) menggelar sosialisasi anti-bullying di SMAS Plus Al Azhar Medan.

Salah satu anggota kelompok, Jimly Asshiddiqie, menyebutkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai bahaya perundungan, baik verbal, fisik, maupun digital, serta membangun keberanian mereka untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah anak.

Sosialisasi dilakukan dengan memaparkan jenis-jenis perundungan, contoh kasus yang sering terjadi, serta dampak psikologis dan sosial yang ditimbulkan.

Kegiatan yang dirancang sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek ini juga menjadi kesempatan bagi para mahasiswa untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila secara nyata.

“Kami melihat banyak siswa yang sudah berani menyuarakan sikap anti-bullying. Ini menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan yang adil dan beradab bukan hanya teori di kelas, tetapi mulai tumbuh dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Jimly, Rabu (10/12/2025).

Bagi mereka, proyek ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara mahasiswa, guru, dosen, dan mentor lapangan dapat memberikan dampak sosial yang nyata dalam upaya membangun lingkungan sekolah yang aman dan inklusif.

Kelompok mahasiswa, yang didampingi Dosen Fasilitator Dr. Namsyah Hot Hasibuan serta mentor lapangan Qayla Nur Asiyah Purba, juga melangsungkan permainan edukatif, pemutaran video, dan berbagi pengalaman siswa mengenai perilaku perundungan yang pernah mereka saksikan atau alami.

“Antusiasme siswa selama kegiatan berlangsung menunjukkan bahwa perundungan masih menjadi persoalan serius di lingkungan pendidikan,” tutur Jimly.

Selain itu, mereka membantu memberikan pemahaman siswa mengenai bentuk-bentuk perundungan serta cara melaporkannya.

“Pihak sekolah juga sangat menyambut positif upaya ini. Kita berharap kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara rutin untuk memperkuat budaya anti-perundungan di sekolah,” ucapnya. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN