Wednesday, July 15, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Kisah Haru Orang Tua Lepas Anak Masuk Sekolah Rakyat di Medan Demi Raih Masa Depan

Mistar.idRabu, 15 Juli 2026 pukul 21.27 WIB
kisah_haru_orang_tua_lepas_anak_masuk_sekolah_rakyat_di_medan_demi_raih_masa_depan

Siswa baru Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Medan mencuci tangan sebelum mengikuti kegiatan di lingkungan sekolah. (Foto: Susan/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID – Haru menyelimuti Romasta Marbun saat mengantarkan anak ketiganya yang baru duduk di kelas 1 SD untuk tinggal di asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Medan.

Di balik kesedihan karena harus berpisah dengan buah hati yang masih kecil, ibu lima anak itu menyimpan harapan besar agar putranya memperoleh pendidikan yang layak dan mampu memutus rantai kemiskinan keluarga.

Bagi Romasta, melepas anak untuk tinggal dan belajar di asrama bukan perkara mudah. Bahkan, suaminya yang bekerja sebagai tukang bengkel sempat ragu selama hampir dua bulan sebelum akhirnya menyetujui keputusan tersebut demi mendukung cita-cita sang anak yang ingin menjadi tentara.

"Tapi anaknya semangat mau masuk ke sini. Dia malah bilang, 'Udah, Mak, enggak apa-apa. Mama jangan sedih, aku sekolah di sana saja, biar nanti bisa jadi tentara.' Tapi setelah kami antar kemarin, ternyata dia menangis juga," kata Romasta dengan haru, Rabu (15/7/2026).

Meski berat, Romasta terus menguatkan putranya agar tetap semangat belajar dan mandiri selama tinggal di asrama.

"Kami merasa kehilangan karena biasanya 24 jam bersama. Jadi saya datang lagi ke sekolah mengantarkan barang-barangnya. Tapi setelah saya lihat, dia sudah mulai berbaur dan semangat bermain dengan teman-temannya. Jadi rasa khawatir kami mulai berkurang," ujarnya.

Di sisi lain, siswi baru SRT 2 Medan, Kania (8), mengaku senang bisa bersekolah di Sekolah Rakyat.

"Disuruh Mama masuk Sekolah Rakyat. Kata ibu, enak sekolah di sini," ucap Kania polos.

Meski mengaku merindukan ibunya, Kania bertekad tidak menangis. Namun, ia mengakui sempat merasa takut saat pertama kali menginap di lingkungan baru.

"Takut pas nginap di Sekolah Rakyat karena dikejutin sama kakak-kakakan," ujar gadis kecil yang bercita-cita menjadi dokter itu.

Perjuangan beradaptasi juga dirasakan Airin Fitri (15), siswi kelas 1 SMA SRT 2 Medan. Ia bercerita bahwa pada malam pertama tinggal di asrama, dirinya dan teman-teman sekamarnya sempat menangis bersama karena merindukan rumah dan orang tua.

Sebagai anak sulung dari seorang buruh bangunan, Airin rela berpisah dengan keluarganya demi memperoleh pendidikan yang lebih baik sekaligus meringankan beban ekonomi orang tua.

Berbekal pesan agar rajin belajar dan menjaga sikap, Airin mantap menjalani kehidupan di asrama untuk mengejar cita-citanya menjadi pengusaha.

"Saya bersyukur bisa menjadi salah satu siswa di Sekolah Rakyat. Fasilitasnya lengkap dan juga mengurangi beban orang tua. Semoga saya bisa menggapai cita-cita dan mengangkat derajat orang tua," kata warga Medan Labuhan tersebut.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN