Siswa SMP IT Plus Annur Medan Raih Medali Perunggu di Jepang Berkat Robot AI Pemilah Sampah

Tiga siswa SMP IT Plus Annur Medan mendapatkan medali perunggu pada ajang internasional di Jepang (foto: dok pribadi narasumber)
Medan, MISTAR.ID – Tiga siswa SMP IT Plus Annur Medan mengharumkan nama Indonesia setelah meraih medali perunggu dalam ajang Japan Design, Innovation & Idea Expo (JDIE) 2026 yang digelar di Osaka, Jepang.
Ketiga siswa tersebut adalah Naufal Hafiz Al Fauzi Sirait, Jovi Al Azhar, dan Muammar Bhumi Adhitama. Mereka berhasil mencuri perhatian dewan juri melalui inovasi Eco Guardian, sebuah robot pemilah sampah berbasis artificial intelligence (AI) dan sensor fusion.
Jovi Al Azhar menjelaskan, Eco Guardian dirancang untuk bergerak secara otomatis, mengenali jenis sampah, kemudian memilahnya ke dalam kategori organik, anorganik, dan logam.
"Selain memilah sampah, Eco Guardian juga memberikan edukasi kepada siswa melalui suara dan interaksi langsung agar mereka terbiasa membuang sampah dengan benar," ujar Jovi kepada Mistar, Rabu (15/7/2026).
Berawal dari Kepedulian terhadap Lingkungan
Menurut mereka, ide tersebut lahir dari masih rendahnya kesadaran siswa dalam memilah sampah. Akibatnya, banyak sampah tercampur sehingga menyulitkan proses daur ulang dan membuat lingkungan sekolah kurang bersih.
"Inspirasi kami berasal dari keinginan menggabungkan teknologi robotika dan kecerdasan buatan sebagai solusi nyata terhadap permasalahan lingkungan di sekolah," katanya.
Pengembangan Eco Guardian memakan waktu sekitar empat hingga lima bulan sejak Februari 2026. Selama proses tersebut, tim menghadapi berbagai tantangan teknis.
"Kendala yang kami hadapi yaitu mengintegrasikan beberapa sensor agar dapat bekerja secara bersamaan, memastikan navigasi robot tetap stabil, dan menjaga akurasi dalam klasifikasi sampah," jelas Jovi.
Ingin Diterapkan di Sekolah hingga Fasilitas Umum
Ketiga siswa berharap Eco Guardian tidak hanya menjadi tempat sampah pintar, tetapi juga media edukasi yang mampu membangun kebiasaan menjaga kebersihan sejak usia dini.
"Kami bangga dapat membawa nama sekolah, daerah, dan Indonesia di ajang internasional," ujar Naufal.
Sementara itu, Muammar berharap inovasi tersebut dapat dikembangkan dan diterapkan di lebih banyak sekolah.
"Saya berharap Eco Guardian bisa digunakan di sekolah-sekolah lain sehingga dapat meningkatkan kesadaran siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan," katanya.
Ke depan, mereka berencana mengembangkan Eco Guardian agar dapat diterapkan secara lebih luas, termasuk melalui kolaborasi dengan pemerintah, sekolah, dan instansi terkait sehingga dapat dimanfaatkan di kampus, taman kota, maupun fasilitas umum lainnya.
Jovi juga mengaku belum puas dengan capaian medali perunggu dan bertekad mengikuti lebih banyak kompetisi sains maupun karya tulis ilmiah.
"Setelah memperoleh medali, saya ingin lebih sering mengikuti olimpiade sains dan lomba karya tulis ilmiah. Saya merasa pencapaian ini masih bisa ditingkatkan," ujarnya.
Diikuti Lebih dari 400 Peserta
Ajang Japan Design, Innovation & Idea Expo (JDIE) INNOPA WIIPA 2026 berlangsung di Kansai Airport Conference Hall, Izumisano, Osaka, Jepang, pada 1–7 Juli 2026.
Kompetisi tersebut diikuti lebih dari 400 peserta dari enam negara, yakni Indonesia, Malaysia, Jepang, Thailand, Taiwan, dan Vietnam.
Orang tua salah satu peserta, Rizky Marpaung, mengaku bangga atas prestasi yang diraih ketiga siswa tersebut.
"Kami sangat bersyukur dan bangga mereka bisa membawa pulang medali perunggu dari ajang internasional di Jepang. Saya tahu mereka sudah berusaha keras, banyak belajar, berlatih, dan berdoa. Semoga ke depannya mereka semakin giat dan semakin bersinar," tuturnya.























